Sangat Penting! 3 Pembeda antara dakwah al Haq dan dakwah-dakwah al Bathil

Ketahuilah wahai saudaraku para pembaca -Semoga Allah memberikan taufik kepadaku dan anda kearah setiap kebaikan-Bahwasanya dakwah yang haq (benar) yaitu dakwah yang menyeru untuk berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah di atas pemahaman As Salafush Shalih. Dan bahwasanya dakwah manapun yang meninggalkan sedikit saja dari apa yang telah lampau, maka dakwah tersebut adalah dakwah yang menyimpang dari jalan yang haq (benar) dan betul, sesuai dengan kadar apa yang ditinggalkan darinya.

Perbedaan antara dakwah-dakwah yang bathil dengan dakwah yang haq:

Dan ketahui pula, bahwasanya setiap dakwah-dakwah, mereka juga mengaku mengajak berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah, maka hendaknya anda melihat apa sih yang menjadi perbedaan antara dakwah-dakwah ini dengan dakwah yang haq? Perbedaanya banyak sekali, yang paling pentingnya:

Pertama: Bahwasanya dakwah yang haq yaitu dakwah yang berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah di atas pemahaman As Salafush Shalih. Adapun dakwah selainnya, maka dakwahnya ialah dakwah yang berpegang teguh dengan pemahaman orang/tokoh yang memunculkannya– dan terkadang dia mendakwakannya atau menyeru kearah dirinya dan bahwasanya dengan hal itulah caranya bagi anda untuk dapat berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah- sehingga kelompok Al Jahmiyyah, mereka berpegang teguh dengan pemahamannya Al Ja’d bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Dan kelompok Al Asy’ariyyah, mereka berpegang teguh dengan para tokoh-tokoh panutannya yang mengaku sebagai pengikut Abul Hasan Al Asy’ari  (Dan Abul Hasan Al Asy’ari sendiri telah melewati tiga fase: Fase pertama: Fase pemahaman mu’tazilah. Fase kedua: Fase pemahaman Kullabiyyah. Dan Fase ketiga: Fase kembalinya dia ke madzhab As Salaf. Jadi kelompok Asy’ariyyah mereka itu sebenarnya bersandar kepada fase Beliau yang kedua catatan kaki) dan…

Dan Tablighiyyah (Jama’ah tabligh pent.), mereka berpegang teguh dengan pemahaman pendirinya yaitu Muhammad Ilyas. Dan Ikhwaniyyah (Ikhwanul Muslimin pent.) beserta pecahan-pecahannya-diantaranya Al Qutbiyyah-, mereka berpegang teguh dengan pemahaman para pendirinya: Hasan Al Banna dan Sayyid Qutb dan Al Hudhaibi dan selain mereka.

Kedua: Bahwasanya dakwah yang haq, para pengusungnya mengambil ilmu dari Imam-imam dakwah salafiyah pada setiap masa. Dan mereka berguru dihadapan para imam yang masih hidup tadi dan membaca karya dari para imam yang sudah wafat-dari generasi ke generasi-. Berbeda dengan para pengusung dakwah-dakwah yang bathil (salah). Maka sesungguhnya mereka adalah musuh-musuh para imam As Salaf, yang masih hidup dan juga yang sudah wafat. Bahkan mereka itu berada dibelakang siapa saja yang menyelisihi para imam-imam tersebut, meskipun secara lahiriahnya tampak mengaku bahwasanya mereka juga mengikuti para imam itu.

Ketiga: Para pengusung dakwah yang haq, mereka sangat perhatian dengan kitab-kitab salafiyah. Dan hal itu terwujud dengan membacanya, menghafalnya, memahaminya, menelitinya dan menyebarkannya (Terkadang sebagian mereka-para pengusung dakwah kebatilanpun ikut menyebarkan kitab-kitab As Salaf dengan disertai penyelewengan padanya. Maka tidak usah dilirik yakni terhadap efek jelek penerbitan kitab-kitab tadi, dan tidak pula melirik kepada seruannya dan para pengekornya catatan kaki) dan menerapkannya.

Berbeda dengan para pengusung dakwah-dakwah yang bathil, maka sebenarnya mereka membenci kitab-kitab tersebut. Bahkan, untuk menyerangnya dengan cara menyebarkannya, dan mereka berupaya pula, sekaligus guna mengikat para pengikut mereka tadi dengan kitab-kitab/buku-buku pegangan dasar kelompok-kelompok jama’ah itu.

Dan sesudah ini: maka bisa jadi ada yang berkata: Siapakah As Salaf? Dan apa saja karya-karya tulis mereka?

Maka jawabannya: As Salaf: mereka adalah para Shahabat dan Tabi’in dan Tabiut tabi’in. Jadi merekalah para pendahulu kita (Salaf kita). Dan siapa saja yang berjalan di atas manhaj/jalan hidup beragama mereka, maka dia adalah Salafy.

Dan adapun karya-karya As Salaf, maka sangatlah banyak sekali. Saya sebutkan sebagian diantaranya: Musnad Al Imam Ahmad, Shahihul Bukhari, Shahih Muslim, As Sunan yang empat, Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari, Tafsir Al Baghawi, Tafsir Ibnu Katsir, Raddul Imam Ad darimi ‘ala Bisyr Al Marisi, Raddul Imam Ahmad ‘alal Jahmiyyah, Khalqu af’alil ibad karya Al Bukhari, Asy Syari’ah karya Imam Al Ajurri, Al Iman karya Ibnu Mandah, At Tauhid karya Ibnu Mandah, At Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, As Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal, As Sunnah karya Al Khilal, As Sunnah karya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Al Ibanah karya Ibnu Baththah, As Sunnah karya Al Barbahari, Syarh Ushulil i’tiqad Ahlis Sunnati wal Jama’ah karya Al Lalika’i, kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-rahimahullahu ta’ala-semuanya tanpa terkecuali, dan demikian juga kitab-kitab murid beliau Ibnul Qoyyim-rahimahullahu ta’ala-dan kitab-kitab para imam dakwah negeri Najdiyah salafiyah, seperti kitab At Tauhid karya Imam Muhammad bin Abdulwahhab, dan syarah-syarahnya semisal: Taisirul ‘azizil hamid, Fathulmajid, Qurratul uyunil muwahidin, Ad Durrarus saniyah, dan selainnya sangat banyak. Dari berbagai kitab-kitab di atas manhaj mereka yang mulia dari para pendahulu dan yang mengikutinya.

Miftahudin bin Ahmad Nur Asbani

9 Dzulhijjah 1435 H

(Dari kitab Al Qutbiyyah hiyal fitnah fa’rifuha, karya Abu Ibrahim bin Sulthan Al ‘Adnani hal7-8)  

Nb. Di antara Ulama Kibar yang masih hadir di tengah-tengah kita adalah Asy Syaikh Rabi’ al Madhkali, Asy Syaikh ‘Ubaid al Jabiri, Asy Syaikh As Suhaimi, Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin al Abbad, Asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkhali, dan semisal dengan mereka.  hafidzahumullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *