Mencintai Nabi

 

📜 _Khutbah Jum’at_

*MENCINTAI NABI*

ــــ صلى الله عليه وسلم ـــــ

 

🎙Oleh: Asy Syaikh Khalid bin Dhahawi Adz Dzafiri _hafidzahullah_

___________

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ، ونستغفره،ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ،من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أما بعد:

Segala puji bagi Allah, kami memuji dan memohon pertolongan kepada-Nya. Dan juga kami memohon ampunan serta hidayah-Nya. Dan kami berlindung dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amal-amal kami. Barangsiapa yang mendapatkan hidayah Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Adapun sesudah itu:

 

فإن أصدق الحديث كلام الله، وخير الهدي هدي محمد -صلى الله عليه وسلم- وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kalam Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad _shallallahu ‘alaihi wasallam_, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di Neraka,

 

*Adapun sesudah itu* :

 

📜 *Wahai hamba-hamba Allah*, saya berwasiat untuk anda sekalian dan diri saya sendiri agar bertakwa kepada Allah _’azza wajalla_ karena didalamnya dapat teraih kebahagiaan dan kesenangan, dan juga kesuksesan serta keselamatan.

 

*Wahai hamba-hamba Allah*, tiada kehidupan yang baik, tiada kehidupan yang teridhai, tiada kebahagiaan yang bersifat abadi kecuali dengan merealisasikan kecintaan yang sempurna kepada Allah _jalla wa’ala_  , Allah _’azza wajalla_ berfirman:

 

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah.” *[Al Baqarah:165]*

dengan merealisasikannya seorang hamba dapat meraih kemuliaan, kebahagiaan, keberuntungan, dan keselamatan di Dunia dan Akhirat.

 

Dan sungguh termasuk dari kecintaan kepada Allah _jalla wa’ala_ adalah mencintai Rasul-Nya _shallallahu ‘alaihi wasallam_ .

🌷 Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah _rahimahullah_ :

 

“Maka sesungguhnya Rasul _shallallahu ‘alaihi wasallam_ hanyalah dicintai karena untuk Allah, dan ditaati karena untuk Allah, dan diikuti karena untuk Allah,  sebagaimana Allah _jalla wa’ala_ telah berfirman:

 

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

 

“Katakanlah (Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku!, niscaya Allah akan mencintai kalian.” *[QS Ali Imran:31]*

Maka mencintai Allah  _jalla wa’ala_ tidak bisa terpisah dari mencintai Rasul kita Muhammad  _shallallahu’alaihi wasallam_ .

🍃 Dalam Shahih Al Bukhari dari Nabi _shallallahu’alaihi wasallam_ bahwasanya Beliau bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الإِيْمَانِ،

وذكر منها:  أَن يكونَ اللَّهُ ورَسُولُه أَحَبُّ إِلَيهِ مِمَّا سِوَى هُمَا

 

“Ada tiga hal, yang barangsiapa ada pada dirinya, dia akan merasakan manisnya iman” dan menyebutkan diantaranya: “Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selain keduanya.”

 

Dan demikianlah, maka mencintai pemuka para makhluk, manusia termulia, Imamnya para Rasul merupakan pokok ushul yang besar dari pokok-pokok Agama, dan kaidah penting dari kaidah-kaidah iman, bagaimana itu dan sungguh telah berfirman Rabb kita _jalla wa’ala_  :

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari pada diri-diri mereka sendiri.” *[QS Al Ahzab:6]*

 

🌷 Berkata para Ulama: “Dan pengutamaan ini terkandung padanya bahwa menjadikan Rasul _shallallahu ‘alaihi wasallam_ itu lebih dicintai oleh seorang hamba dari pada dirinya sendiri, dan jangan sampai jadinya bagi seorang hamba suatu hukum itu ada pada dirinya sendiri secara asal pokoknya,  bahkan (yang benar) hukum itu hanya untuk Allah dan untuk Rasul dan dari petunjuknya, syariatnya, dan Sunnahnya.”

 

🍃Dalam Shahihain dari hadits Anas _radhiallahu ‘anhu_ Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِليه مِنْ وَلَدِهِ ووَالِدِه والنَّاس أَجْمَعِينَ

“Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga saya menjadi orang yang lebih dia cintai dari pada anaknya, kedua orang tuanya, dan manusia seluruhnya.”

 

Mencintai Nabi kita _shallallahu ‘alaihi wasallam_ akhir kesudahannya adalah kebaikan yang besar dan kenikmatan yang langgeng, sehingga barangsiapa yang mencintai Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ sebagai orang yang beriman kepada Allah _’azza wajalla_ , bertauhid, merealisasikan tauhid untuk-Nya,  tentu nanti dia akan bersama Rasul _shallallahu ‘alaihi wasallam_ di dalam Jannah Surga penuh kenikmatan, karena rahmat dari Allah, dan keutamaan serta kebaikan.

 

🍃Pada riwayat Al Bukhari

أن رجلا  قال للنبي صلى الله عليه وسلم:  يَارسُولَ اللَّهِ مَتى الساعةُ؟ قال ما أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قال: مَا أَعْدَدْتُ لَهَا كثيرا مِنْ صلاةٍ وصومٍ وصدقةٍ} أي ما زدت على الواجبات من نوافل، ثم قال: ولكنِّي أُحبُّ اللهَ ورسولَه فقال النبي صلى الله عليه وسلم: فَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

: “Sesungguhnya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ :  “Wahai Rasulullah kapan hari kiamat?” Jawab Beliau: “Apa yang kamu persiapkan untuk menghadapinya? Kata dia:  “Aku tidak mempersiakan untuk menghadapinya lebih banyak dari shalat,  puasa, dan shadaqah.” yakni aku tidak menambah di atas hal-hal yang wajib berupa amalan-amalan sunnah,  lalu dia berkata:  “Namun aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” maka Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda: “Maka dirimu bersama yang kamu cinta.”

 

🌷 Berkata Anas _radhiallahu ‘anhu_ dan beliau shahabat yang mulia: “Saya mencintai Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_, Abu Bakar dan Umar, dan saya berharap akan menjadi bersama mereka karena kecintaan saya kepada mereka itu, meskipun saya tidak beramal dengan semisal amal-amal mereka.”

 

🌷Berkata Al Hasan Al Bashri _radhiallahu ‘anhu warahimahu_ tentang pemahaman hadits ini:  “Maka barangsiapa yang mencintai suatu kaum, tentulah mengikuti jejak-jejak mereka,  dan kamu tidak akan berkumpul dengan orang-orang yang baik sehingga mengikuti jejak-jejak atsar mereka, dan mengambil petunjuk mereka, dan meneladani sunnah mereka, dan kamu bersegera berjalan di atas metode prinsip mereka, semangat agar kamu menjadi termasuk dari bagian mereka, maka kamu menempuh jalan mereka, dan mengambil jalan mereka, meskipun kamu penuh kekurangan dalam hal amal.”  selesai ucapannya _rahimahullah_

 

*Wahai hamba-hamba Allah,*  Dan cinta itu meskipun termasuk amalan hati, namun sudah seharusnya untuk tampak muncul pengaruhnya pada anggota badan secara ucapan dan perbuatan, dan sudah seharusnya ada tanda-tanda yang menonjol dan bukti-bukti kebenarannya dalam kehidupan secara lahir dan bathin. Dan di sana ada petunjuk-petunjuk sebagai saksi yang benar akan kecintaan yang jujur, dan di sana ada tanda-tanda yang menguatkan kebenarannya, dan bekas-bekas tanda pengaruh yang nampak pada orang yang bersifat dengannya.

 

Maka kecintaan seorang mukmin kepada Allah dan Rasul-Nya  _shallallahu ‘alaihi wasallam_ terkandung padanya meraih apa saja yang Allah dan Rasul-Nya cintai berupa amal-amal hati dan anggota badan, dan mengandung sikap menjauhi apa saja yang Allah benci dan yang Nabi kita _shallallahu ‘alaihi wasallam_ membencinya juga, berupa keyakinan-keyakinan, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatan. Sehingga Pecinta Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ dengan cinta yang jujur lahir dan bathin itu, menjadi Pengikut Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ dalam senang dan bencinya, dalam sepi dan ramainya, mencurahkan semua kemampuannya untuk berhenti di atas petunjuknya dan mengikuti Sunnahnya, bersemangat pada seluruh bimbingan pengarahannya, Sunnahnya _shallallahu ‘alaihi wasallam_ dan perilakunya, syariatnya,  serta petunjuknya.

 

🌷Berkata Al Hasan Al Basri dan selainnya dari kalangan Salaf umat ini:  “Sesungguhnya suatu kaum mengaku mencintai Allah dan mencintai Rasul-Nya _shallallahu ‘alaihi wasallam_ , maka Allah menguji mereka dengan ayat ini:

قُلْ إِنْ كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah( Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah,  maka ikutilah aku!, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” *[QS Ali Imran: 31]*

 

*Wahai hamba-hamba Allah*, mencintai Rasul kita

_shallallahu ‘alaihi wasallam_ terkandung bagusnya mengambil teladan darinya dan merealisasikan mencontoh Sunnahnya, dalam Akhlak dan Adabnya, dalam hal-hal yang Nafilah dan Tathawu’nya, dalam makan,  minum, dan berpakaiannya, serta dalam seluruh adab-adab yang sempurna dan Akhlaknya yang suci.

 

*Wahai hamba-hamba Allah,* mencintai Rasul _shallallahu ‘alaihi wasallam_ terkandung pengagungan terhadap Nabi dan memuliakannya dan beradab kepadanya sesuai yang diperbolehkan dan sebatas yang disyariatkan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya _shallallahu ‘alaihi wasallam_,  pengagungan yang disyariatkan itu terkandung pengagungan dengan hati yaitu meyakini keadaannya sebagai seorang Rasul, seorang Rasul yang dipilih, dengan tanpa melampaui batas dan meremehkan, dan dengan tanpa terjatuh pada hal-hal yang diperingatkan. Mengagungkan dengan lisan; dan itu dengan cara memujinya dengan apa yang sesuai kedudukannya dan dengan sifat paling baik yang telah disifatkan kepada manusia terbaik. Jadi dalam pada itu, maka wajib menjauh dan waspada berkenaan dalam kedudukan kenabian ini berupa sikap merendahkan semisal meninggalkan shalawat kepadanya secara terlisan maupun tulisan,  atau menghinakannya, atau sedikitnya perhatian dengannya,  atau menjauhi penelaahan perjalanan sirahnya dan mempelajari bimbingan petunjuknya.

🌷Dahulu Muhammad ibnul Munkadir _rahimahullah_ bila ditanya tentang suatu hadits dari hadits-hadits Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_, Beliau menangis sehingga orang-orang yang duduk mengasihaninya sebagai bentuk memuliakan menghormati Rasulullah

_shallallahu ‘alaihi wasallam_

 

🌷Dan dahulu Abdurrahman bin Mahdi _rahimahullah_ bila membaca hadits-hadits Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ memerintahkan orang-orang yang hadir agar diam, dan dia berkata:  “Jangan kalian tinggikan suara-suara kalian melebihi suara Nabi!”

 

🌷Berkata Ibnul Arabi Al Maliki _rahimahullah_ :  “Kehormatan Nabi tatkala sudah mati seperti kehormatannya ketika masih hidup, dan perkataannya yang teriwayatkan setelah kematiannya dalam hal ketinggian itu semisal ucapannya yang didengar secara terlafadzkan, sehingga jika dibaca perkataannya, maka wajib atas setiap yang hadir untuk tidak meninggikan suara darinya dan tidak pula berpaling darinya.”  selesai ucapannya.

 

Jadi kewajiban seorang muslim untuk memilih lafadz terbaik, terbagusnya, paling lunak maknanya, dan terlembutnya dalam hal menyikapi hadits darinya _shallallahu ‘alaihi wasallam_,  dan menjauhi suatu ucapan lafadz yang terkandung peremehan atau jeleknya adab terhadap kedudukannya _shallallahu ‘alaihi wasallam atau terhadap Sunnahnya.

 

*Wahai hamba-hamba Allah*,  dan termasuk mencintainya _shallallahu ‘alaihi wasallam_ adalah memujinya sesuai dengan kedudukannya dengan pujian yang Rabbnya telah memujinya dengan tanpa melampau batas dan tanpa mengurangi, dan sungguh termasuk pujian teragung kepadanya ialah memperbanyak shalawat dan salam kepada Beliau, memperbanyak hal itu tatkala disebutkan namanya yang mulia kepada para pendengar dan pengucapnya, dan pada saat penulisan dan terlisan.

 

🍃Dan dalam Sunan Abu Dawud bahwasanya Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:  “Sesungguhnya diantara  hari-hari terbaik bagi kalian adalah hari Jum’at, pada hari itu diciptakan Adam _’alaihissalam_ , dan pada hari itu dia dicabut nyawanya, pada hari itu adanya peniupan, pengkagetan, maka perbanyaklah shalawat atasku pada hari itu.”

 

_Allahumma Shalli’ala Nabiyina Muhammad wasallim_

 

*Wahai hamba-hamba Allah*,  termasuk dari contoh-contoh bukti mencintainya _shallallahu ‘alaihi wasallam_, kamu mengingatnya selalu, dan berharap melihatnya, dan berdoa kepada Allah _jalla wa’ala_ agar mengumpulkan antara dirimu dengan Rasul-Nya di Jannah-Nya.

 

🍃Muslim meriwayatkan dari Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam  bahwasanya Beliau berkata:  “Termasuk orang yang paling sangat mencintaiku, ialah orang-orang yang sepeninggalku yang begitu ingin salah seorang diantara kalian,  seandainya bisa melihatku beserta keluarga dia dan hartanya.”

 

_*Kami memohon semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka*_

 

🍂Dan termasuk bukti cinta kepadanya _’alaihish shalatu wassalam_ ialah mencintai kerabat dan keluarganya, para istrinya, dan juga mencintai para Shahabatnya dan memuliakan mereka, dan mengerti keutamaan mereka, serta menjaga kehormatan mereka dan mengenali kedudukan mereka, karena Rasul kita _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:  “Aku ingatkan kalian tentang Ahli Baitku, Aku ingatkan kalian tentang Ahli Baitku, Aku ingatkan kalian tentang Ahli Baitku.”

 

🍂Dalam Shahih Al Bukhari bahwasanya Abu Bakar _radhiallahu’anhu_ berkata:  “Jagalah pesan Nabi Muhammad _shallallahu ‘alaihi wasallam_ tentang Ahli Baitnya.”

 

🍂Dan adapun tentang Shabatnya, maka Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:  “Jangan kalian cela para Shahabatku,  karena sungguh salah seorang diantara kalian bila berinfak emas semisal gunung Uhud, tidak akan bisa menyamai sekadar Mud salah seorang dari mereka, dan tidak juga setengahnya.”

 

*Wahai hamba-hamba Allah,*  berdoanya Beliau _shallallahu ‘alaihi wasallam yang Beliau sangat bersemangat untuk berdo’a siang malam, pelan-pelan dan keras,  itu merupakan bukti melaksanakan peribadahan kepada Allah saja yang tiada sekutu bagi-Nya, dan menjauhi memalingkan sesuatupun dari sifat-sifat khusus Rabb atau Ilahiyah kepada selain Allah _’azza wajalla_ , oleh karenanya maka orang yang sangat mencintai Nabi dan memuliakannya, dia itu adalah orang yang merealisasikan hal ini dari sisi Tauhid.

 

🍂Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda:  “Janganlah kalian melampaui batas terhadapku sebagaimana orang-orang Nashrani terhadap putra Maryam, Aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakan Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

 

🍂Dan pada riwayat Ahmad dengan sanad yang baik, bahwa ada seseorang yang berkata kepada Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ :  “Atas kehendak Allah dan kehendakmu.”  Maka Nabi  _shallallahu ‘alaihi wasallam_ berkata kepadanya:  “Apakah kamu menjadikan aku  sebagai tandingan bagi Allah? Katakan Hanya kehendak Allah saja!”

 

Maka hati-hatilah dari berbuat melampaui batas terhadap Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ seperti keyakinanmu terhadapnya yang itu merupakan kekhususan bagi Allah, seperti keyakinanmu bahwasanya dia mengetahui hal ghaib pada perkara yang tidak Allah _’azza wajalla_ perlihatkan kepadanya, atau seruan doa kalian kepadanya _termasuk selain Allah_ untuk menghilangkan mara bahaya atau menolak bencana atau meraih manfaat, karena itu adalah syirik berdasar nash-nash Al Qur’an dan petunjuk pemuka para manusia.

Allah _subhanahu_  berfirman:

 

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ

 

“Katakanlah (Muhammad): “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya.” *[QS Al A’raf: 188]*

 

Dan termasuk kedustaan terbesar kepada Al Qur’an dan Sunnahnya pemuka manusia, ialah keyakinan bahwa wujud adanya beliau _shallallahu ‘alaihi wasallam_ sudah ada untuk alam ini, dan bahwasanya makhluk dan apa yang terjadi itu dicipta dari cahayanya dan semisal itu dari berbagai keyakinan-keyakinan bathil yang menyelisihi apa yang terdapat dalam dua wahyu:

 

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ ..

“Katakanlah (Muhammad): “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia biasa seperti kamu, yang telah menerima wahyu…” *[QS Al Kahfi: 110]*

 

Jadi wajib _Wahai para hamba Allah_ untuk meninggalkan semua ibarat-ibarat penggambaran yang dapat menyeret kearah melampaui batas yang keji ini seperti seruan sesungguhnya itu Cinta Alam Semesta! kemudian diambillah kata-kata ini guna menebar sikap ghuluw/melampaui batas terhadap Rasul _shallallahu ‘alaihi wasallam_ dan jatuh dalam menyekutukan Allah _’azza wajalla_ dan selain itu dari kemungkaran-kemungkaran yang berbahaya.

 

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول ما تسمعون وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

___________🎙🎙

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد:

 

📜 *Wahai hamba-hamba Allah*, sungguh termasuk dari sebab terbesar terlantarnya kaum Muslimin pada hari ini dan jatuhnya mereka kepada begitu banyaknya fitnah-fitnah dan ujian-ujian ialah jauhnya dari merealisasikan kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada Rasul-Nya _shallallahu ‘alaihi wasallam_  berupa kecintaan yang jujur dengan mengikuti. Dan termasuk dari sebab terbesar jatuhnya kepada fitnah-fitnah dan diantara sebab paling besar mengalami ujian-ujian begitu juga yaitu menyelisihi Manhaj Allah dan Manhaj Rasul-Nya _shallallahu ‘alaihi wasallam_  perkara yang menjadikan beragam rupa penyelisihan dari hal keyakinan dan perbuatan-perbuatan yang diperingatkan, sehingga terlihatlah suatu kaum yang mengaku mencintai Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_, sedangkan mereka mencaci-maki dan mengkafirkan para Shahabatnya dan mencela kehormatannya! Dan mereka menuduh istri-istrinya _radhiallahu ‘anhunna_

 

Dan kamu lihat ada kaum-kaum yang mengklaim mencintai Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ sedangkan mereka menyelisihi perintahnya, dan mereka menyematkan dan memberikan kepadanya berupa sifat-sifat Allah Rabb semesta Alam.

 

Dan kamu lihat ada kaum-kaum yang mengaku mencintai Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ namun mereka menyelisihi Sunnahnya, dan menempuh metode-metode yang menyelisihi petunjuknya dan jalannya,  dan berkelompok serta berkumpul di atas jalan-jalan setan yang bukan dari Islam sedikitpun.

 

Dan kamu melihat sekelompok orang-orang yang mengaku-ngaku mencintai Nabi  _shallallahu ‘alaihi wasallam_ sedangkan mereka membuat-buat bid’ah yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya,  dan mereka merayakan perayaan-perayaan bid’ah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah dan para Shahabatnya _radhiallahu ‘anhum_ dan tidak juga diperbuat oleh para pengikutnya, semisal perayaan suatu malam atau semisal perayaan Isra Mi’raj, dan Maulid Nabi yang mereka akan merayakannya dalam waktu dekat atau Hijrahnya Nabi, maka semua itu adalah perayaan-perayaan bid’ah,  sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam, bahkan anehnya mereka berkeyakinan bahwa Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ menghadiri perayaan-perayaan mereka dan

menghadiri pula tari-tarian mereka, lawakan-lawakan, dan nyanyi-nyanyian mereka dengan adanya rebana dan bedug drum, Sebagaimana kata mereka:

※※هذا الحبيب مع الأحباب قد حضرا※※※

وسامح الكل فيما قد جرا※※

 

※※Sang Kekasih ini bersama para Pecinta telah Hadir※※※

Dan memaafkan semua perkara yang telah terjadi※※

 

Maka semua perbuatan ini justru menunjukkan akan dustanya mereka dalam pengakuan klaim mereka mencintai Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ , karena siapa saja yang mencintai Beliau, maka seharusnya mengikuti perintahnya dan menempuh jalan petunjuknya dan mencintai para Shahabatnya.

 

Lalu sesungguhnya Allah _jalla wa’ala_ telah memerintahkan kalian dengan urusan yang besar, dengannya akan membersihkan kehidupan kalian dan membahagiakan jiwa-jiwa kalian, ingatlah yaitu memperbanyak shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia _shallallahu ‘alaihi wasallam_

 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (memuji) untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” *[QS Al Ahzab:56]*

اللهم صل وسلم على نبيك وعبدك ورسولك محمد -صلى الله عليه وسلم- اللهم ارض عن الخلفاء الراشدين عن الصحابة أجمعين، والأئمةالمهتدين،

{رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار }ِ (البقرة:٢٠١)

اللهم اغفر لنا ولوالدينا وللمؤمنين الأحياء منهم والأموات وصلى الله وسلم على نبينا محمد.

 

 

📨Mift@h_Udin✍

Kawunganten, Kamis 22 Jumadal Ula 1439 H

 

Sumber:

🌍|| http://bit.ly/2nRQkJI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *