Benarkah Muktamar Chechnya itu Ahlussunnah Wal Jama’ah?

 

[Muktamar Chechnya menetapkan bahwasanya Asy’ariyah dan Maturidiyah,  merekalah Ahlussunnah Wal Jama’ah]

-Mimbar Islami-Syabakah Sahab Salafiyah-

 

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=160462

[Muktamar Chechnya menetapkan bahwasanya Asya-‘irah dan Maturidiyah,  merekalah Ahlussunnah wal jama’ah! !]

 

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على نبي بعده، أما بعد

 

Muktamar Chechnya telah mengumpulkan campur aduknya Ahlul Ahwa dan Bid’ah,  dari kalangan pegiat kuburiyun dan extremnya tasawuf, sehingga mereka menetapkan bahwasanya sifat Ahlussunnah wal Jama’ah itu dimuthlakan terhadap Asya-‘irah dan Maturidiyah! ! dan berikut ini bantahan dari ucapan-ucapan Ahli ilmu atas tolok ukur buatan mereka itu.

Sejatinya, yang mereka inginkan dengan ucapan ini ialah menyerang Dakwah Salafiyah dan terhadap para Ulamanya, dan menyingkirkan kitab-kitab mereka,  seperti kitab-kitabnya Ibnu Taimiyah,  Ibnul Qoyyim, dan  Imam Mujaddid Muhammad bin Abdulwahhab,  sehingga mereka pun menjadikan apa yang terjadi di masa kini berupa perpecahan dan perselisihan, peperangan dan pengusiran, kekacauan dan kegoncangan itu disebakan kitab-kitab ini!

Dan mereka sebelum munculnya ISIS yang jahat, pernah dahulu mereka menerangkan juga seperti penerangan mereka pada hari ini dalam Muktamar,  kalau demikian : sebenarnya ketetapan mereka itu termasuk permusuhan terhadap Dakwah Salafiyah dan para Ulamanya, melempar tuduhan, memuthlakan julukan guna memperingatkan dari mereka, perhatikanlah sebagai percontohan saja : [Hasan Al Maliki yang Sesat]

Kata Hasan Al Maliki : bersamaan ini dan bersamaan pula penyifatannya dalam Qiroat-nya (hal 80-81) terhadap kitab-kitab yang ditulis dalam masalah aqidah-aqidah bahwasanya itu merusak kaum muslimin, dan dia menyebutkan contoh-contoh yang banyak dari kitab-kitab yang dibuat oleh Hanabilah dalam masalah aqidah dan itu sangatlah banyak, diantaranya Kitab Tauhid karya Ibnu Khuzaimah,  dan Asy Syari’ah karya Al Ajurry,  Ushulussunnah karya Al Lalikay dan kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim, bersamaan hal itu dia berkata pada (hal.154) dari Qiroat-nya: (Saya tidak berpendapat maknanya untuk melarang kitab-kitab asya-‘irah dan Syi’ah, dan Ibadhiyah dan selain mereka dari kaum muslimin yang masuk ke Mamlakah(Saudi pent) dalam sinar pancaran ilmu!!!))

Berkata Asy Syaikh Robi’ Hafidzahulloh : Sungguh dia telah mengumpulkan dalam pada itu antara melecehkan perihal kitab-kitab Ahlussunnah dan menguatkan kitab-kitab selainnya, jadi dia inginnya mengambil yang lebih rendah sebagai pengganti yang lebih baik!

Dan tulisan-tulisannya terbangun di atas cacian kepada Ahlussunnah, dimulai dari para Shahabat radhiallohu ‘anhum sampai orang yang ada di zaman ini yang berada di atas metode mereka di Mamlakah (Saudi) dan selainnya.

[Al intishor lishshohabatil akhyar firoddi abathili Hasan Al Maliki: hal.117]

Inilah dia hasil dalam Muktamar Chechnya berupa penghinaan dan penyingkiran dari kitab-kitab Ahlussunnah dan menguatkan kitab-kitab Ahlul bid’ah, sehingga para penyimak Muktamar dari kalangan awam menyangka bahwa merekalah Ulama,  dan apa yang mereka tetapkan itulah yang benar,  -akan dimulailah pembahasan terkait Ulama asya-‘irah dan Maturidiyah,  dan pembahasan mengenai kitab-kitab mereka dan ketetapan-ketetapan mereka yang rusak,  karena urusannya berbahaya,  jadinya Muktamar ini akan menambah perselisihan dan perpecahan, dan ucapan-ucapan jelek terhadap Ulama Ahlussunnah,  dan peringatan dari kitab-kitab mereka,  dan tidak kita dengar dari mereka dalam Muktamar peringatan dari Ikhwanul Muflisin (IM pent) dan kitab-kitabnya,  dan mengambil jama’ah-jama’ah seperti sumbernya bagi mereka dalam inspirasi mereka terkait pengkafiran orang-orang sebagaimana kelakuan Sayid Qutbh berupa pengkafiran masyarakat.

SEKILAS RINGKAS TENTANG KEYAKINAN ASYA-‘IRAH/asy’ariyah OLEH AL ALLAMAH AL JAMI رحمه الله

Al asya-‘irah : suatu kelompok dari Ahlilkalam

Al Asya-‘irah : Nisbat kepada Abul Hasan al asy’ary-Abul Hasan al asy’ary bersandar ke Abu Musa al asy’ary seorang shahabat- Abul Hasan al asy’ary tumbuh pada periode pertama diatas sebuah metode yang disebut metode Mu’tazilah,  karena gurunya dahulu menikahi ibunya, Ibunya mulai mendidiknya sejak kecil bersama Abu Ali al Jubba’i -suami ibunya- jadi ia pun berguru padanya, sedangkan Abu Ali al Jubba’i termasuk tokoh besar Mu’tazilah,  dan perbincangan pun mengalir seterusnya,  yang mempertanyakan akan berkata Apasih Mu’tazilah itu sendiri?!

Al Mu’tazilah : suatu kelompok dari Ahlil Kalam (Mantiq) yang meniadakan sifat-sifat Alloh ta’ala tidak menetapkan bagi Alloh sifat apapun, dalam klaimnya sebagai penyucian Alloh ta’ala. Maknanya : meniadakan sifat-sifat, tidak ada kemampuan bagi-Nya, dan tidak ada pula keinginan, tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak berkata-kata sampai akhirnya. Ini yang disebut: Metode Mu’tazilah, karena mereka sebenarnya dahulu di majelisnya Abul Hasan, majelisnya al Hasan al Bashri. Washil bin Atha’ -tokoh mereka- memisahkan diri keluar dari majelisnya al Hasan, jadi pisahlah sendiri,  kemudian datang membawa dengan pemikiran baru dan bersendirianlah dari kaum muslimin pada aqidah mereka, tidaklah dinamakan dengan Mu’tazilah lantaran kondisinya yang memisahkan diri dari majelisnya al Hasan saja,  mereka memisahkan diri dari majelisnya al Hasan kemudian mereka juga memisahkan diri dari kaum muslimin pada banyak dari aqidahnya,  dimuthlakan pada mereka itu sebutan: Mu’tazilah,  yaitu kelompok besar yang terkenal.

Dan jika kamu bertanya apakah itu ada sekarang ini?! Iya. setiap orang berhaluan syiah maka iapun berhaluan mu’tazilah,  camkan kaidah ini: Setiap orang yang berhaluan syi’ah berawal dari yang terdekatnya syi’ah ke Sunnah, dan mereka itu ialah: Zaidiyah, dan ujungnya yang terjauhnya mereka yaitu Imamiyah Ja’fariyah, mereka semua di atas aqidah mu’tazilah dalam persoalan aqidah. inilah kaidahnya.

Mu’tazilah ini,  padanyalah Abul Hasan al asy’ary tumbuh selama 40 tahun hingga menjadi imam setelah pamannya, namun Alloh menginginkan,  ia berselisih dengan pamannya pada sebagian masalah di antaranya:  Apakah wajib atas Alloh untuk berbuat baik bagi hamba-Nya yang memperbaiki?!

di atas aqidahnya yang masih Mu’tazilah, Abul Hasan mengingkari dengan fitrahnya keadaan hamba, dia berkata: Wajib atas Alloh untuk berbuat begini begitu, sehingga dia meninggalkannya,  dan mulai mencari kebenaran,  sikapnya serupa dengan sikap Salman al farisi yang meninggalkan pemikiran Majusi guna mencari kebenaran lalu ia pun mendampingi Rahib-rahib sampai Alloh menunjukinnya-bertemu dengan Rosululloh-عليه الصلاةوالسلام- di Madinah. Persis serupa ini,  Abul Hasan keluar dari pemikiran Mu’tazilah lalu mencari kebenaran dan berhenti pada…dari Kullab,  lalu dia mengambil aqidah Kullabiyah, akan tetapi karena keadaannya dia seorang imam yang terkenal, dan karena nasabnya yang terkenal,  maka terlupakanlah pemilik aqidah Kullabiy ini, jadi terlupakanlah. Jadi penisbatan kepadanya berupa aqidah asy’ariyah yaitu membedakan diantara sifat-sifat, sebagai pengganti meniadakan seluruh sifat-sifat di atas metode Mu’tazilah,  membedakan antara sifat-sifat aqliyah dia tetapkan untuk Alloh,  dan adapun sifat-sifat yang termasuk sifat khobariyah dia menakwilnya, inilah metode asy’aroyah. Dia hidup di atas metode ini sekian masa dan akhirnya sebagaimana berjumpanya Salman al farisi dengan Rosululloh -alaihishsholatu wasalam- dan Alloh beri hidayah ke arah kebenaran,  Berjumpalah Abul Hasan dengan Manhaj Salaf Sholih, lalu dia menulis kitab yang dia sebut “Al Ibanah”, dan dia menyebutkan di awal pembukaannya-kitab ini ada dan tercetak- Bahwasanya dia berada di atas metodenya Imam Ahlus sunnah wal jama’ah,  yaitu: Al Imam Ahmad bin Hanbal, dan dia memujinya dengan pujian harum sesuai denannya pada mukadimah kitab, maka dia umumkan bahwasanya dia kembali ke Manhaj Salaf Sholih.

Dan asy’ariyah yang ada sekarang ini yang dipelajari di banyak universitas-universitas di luar negeri ini (Saudi), padahal itu adalah aqidah Kullabiyah yang dahulu Abul Hasan berada di atasnya setelah rujuk dari pemahaman Mu’tazilah,  senantiasa mereka mendustakan apa yang ada pada “Al Ibanah” mereka mengatakan: “Tidak benar itu tentang kembalinya Abul Hadan ke Manhaj Salaf,  dan kitab ini bukan karyanya, tapi orang yang mendakwahkan Salafiyah-merekalah yang menulis dengan gaya ucapannya dan berdusta atas namanya. Akan tetapi Alloh menghendaki bahwasanya tokoh-tokoh pembesar pengikut Abul Hasan, mereka rujuk diantaranya: al imam Ghozali menyesal dengan penyesalan yang ia menangisinya,  dan menulis kitab yang ia beri nama “Iljamul awam an ilmil kalam”, dan Imamul Haromain,  dan orang tuanya,  ar Razi,  Asysyahrastaniy-mereka ulama terkemuka asya’irah-mereka semuanya menyesal, dan mencela ilmu kalam/mantiq dengan apa yang ada dalam asya’irah, adapun orang tua imamul haromain maka ia rujuk dengan rujuk yang jelas sekali dan menulis risalah yang isinya menjelaskan tentang aqidahnya,  dan bagaimana keadaannya dan bagaimana rujuknya,  dan risalahnya ada terkandung dalam kumpulan “Al Mutunul Muniriyah” bagimu untuk meniliknya guna mengetahuinya.

Kalau begitu al asy’ariyah ialah aqidah yang Abul Hasan dahulu pernah berada di atasnya sebelum  kembalinya dia ke Manhaj Salaf lalu iapun rujuk. Dan aqidah itu dipelajari kini pada banyak universitas-universitas yang disebut dengan universitas islami di luar negeri ini (Saudi) seperti Al Azhar dan cabangnya Al Azhar dan semua yang dipelajari di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin di Al Azharusy Syarif dan pengikut Al Azharusy syarif,  semuanya aqidah Kullabiyah asy’ariyah yang Abul Hasan al asy’ariy telah bertaubat darinya. inilah dia al asy’ariyah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Lafadz Ahlussunnah yang dimaukan dengannya ialah siapa saja yang menetapkan kekhilafahan yang tiga, lalu memasukan padanya semua kelompok kecuali Rafidhah,  dan seringnya yang dimaukan dengannya ialah Ahlul hadits dan sunnah yang murni,  sehingga tidak termasuk padanya kecuali siapa saja yang menetapkan sifat-sifat Alloh ta’ala dan mengatakan : Al Qur’an bukan makhluk,  dan sesungguhnya Alloh akan dilihat di akhirat, dan menetapkan takdir dan selain itu dari pokok-pokok yang terkenal pada Ahlul hadits was sunnah” (Minhajussunnah 2/221)

Kalau demikian: asya-irah dan maturidiyah bukanlah termasuk Ahlussunnah wal jama’ah, disebabkan mereka memiliki suatu pengubahan dan peniadaan pada sifat-sifat Alloh jalla wa’ala dan selain itu dari berbagai penyimpangan.

Berkata al allamah Bin Baz dalam bantahannya terhadap ash shobuniy: “Asya-‘irah dan yang serupa mereka itu tidak termasuk dalam Ahlussunnah dalam penetapan sifat-sifat Alloh,  dikarenakan mereka telah menyelisihi Ahlussunnah dalam hal itu dan menempuh selain manhaj metodenya, dan hal itu menuntut untuk pengingkaran atas mereka ini dan penjelasan tentang kesalahan mereka dalam ta’wil,  dan bahwasanya hal itu menyelisihi manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana telah lewat penjelasannya di permulaan peringatan-peringatan penting ini, sebagaimana bahwasanya tidak terlarang untuk dikatakan bahwa asya-‘irah bukan termasuk dari Ahlussunnah dalam bab nama-nama dan sifat-sifat Alloh meskipun mereka bagian darinya pada bab-bab lain sehingga mengetahui sang pengamat  dalam madzhab mereka bahwasanya mereka telah salah dalam ta’wil sebagian sifat-sifat Alloh,  dan mereka telah menyelisihi para Shahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya dengan baik pada permasalahan ini, sebagai bentuk mengukuhkan kebenaran dan mengingkari kebatilan dan mendudukkan posisi setiap yang dari Ahlussunnah dan asya-‘irah pada posisinya yang ia berada di atasnya. (Majmu’ul fatawa 3/74)

Berkata Ibnu Utsaimin dalam Syarh al wasithiyah: “Jadinya makna Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu Ahlussunnah wal ijtima’, disebut dengan Ahlussunnah karena mereka menempuh jalan Sunnah, dan karena mereka bersatu di atas Sunnah…

Dan diketahui dari ucapan penulis rahimahulloh bahwasanya tidak dimasukkan ke dalam Ahlussunah wal Jama’ah siapa saja yang menyelisihi mereka dalam metode cara mereka, jadi asya-‘irah sebagai contohnya dan juga maturidiyah tidak tergolong dari Ahlussunnah wal jama’ah dalam bab ini,  karena mereka menyelisihi terhadap perkara yang Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan para Shahabatnya berada di atasnya dalam memperlakukan sifat-sifat Alloh subhanahu wata’ala sesuai kebenarannya. Oleh karena ini salah-lah orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Ahlussunnah wal Jama’ah itu ada 3: Salafiyun,  Asy’ariyun, dan Maturidiyun,  maka ini salah,  Kami jawab: “Bagaimana mungkin semuanya Ahlussunnah padahal mereka berbeda? Sebab tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan! dan bagaimana bisa semuanya menjadi Ahlussunnah padahal setiap masing-masingnya membantah yang lainnya? ini tidak mungkin, kecuali jika memungkinkan untuk mengumpulkan antara: dua yang berlawanan,  jadi iya,  kalau tidak bisa,  maka tidak ragu lagi bahwa salah satu dari mereka saja-lah yang ia itu Shohibusunnah, siapa dia?  kami katakan: siapa saja yang sesuai dengan Sunnah,  maka dia lah Shahibussunnah, dan siapa saja yang menyelisihi Sunnah,  maka bukan Shohibussunnah, maka kami berkata : Salaf,  mereka itu-lah Ahlussunnah wal Jama’ah,  dan tidak benar penyifatan ini kepada selainnya selama-lamanya.

Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami ditanya :

Soal : Bagaimana mereka bisa menjadi yang terdekatnya kelompok Kalam/mantiq dari Ahlussunnah seiring dengan adanya aqidah yang rusak ini?

Jawab : Ini adalah dekat sekedar penisbatan saja, ditinjau dari yang selain mereka dalam ketidak penetapannya bagi Alloh (sifat yang satu seperti Mu’tazilah, karena Asya-‘irah sebagaimana yang telah lalu, mereka menetapkan sifat-sifat makna-makna seperti kemampuan, keinginan, mendengar, melihat,  ilmum hidup, berbicara,  dan dalam masalah berbicara ada perbincangan yang panjang. Syarhul wasithiyah

Beliau berkata pula: “Dari sini kalian tahu bahwasanya asya-‘irah mereka bukan termasuk Ahlussunnah,  karena mereka menyelisihi Ahlussunnah wal Jama’ah pada hal ini dan selainnya dari hal-hal yang banyak.” Sumber yang sama tadi. Dan [Dalam Syarh Sunan Abi Dawud karya al allamah al Abbad]

 

Apakah asya-‘irah termasuk Ahlussunnah wal Jama’ah?

Jawab : Mereka bukan termasuk Ahlussunnah wal Jama’ah,  namun mereka paling dekat dari pada selain mereka ke Ahlussunnah wal Jama’ah,    dan karena Ahlussunnah wal Jama’ah itu ialah mereka orang-orang yang berada di atas apa yang Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam dan Shahabatnya. Dan telah diketahui bahwa aqidah asya-‘irah tidak diketahui oleh para Shahabat,  dan belum pernah ada pada zaman Shahabat,  melainkan tumbuh setelah masa Shahabat. Jadi apakah masuk akal jika ini baik terluputkan dari para Shahabat dan dimiliki oleh orang yang muncul setelah mereka? Tidak masuk akal, sebab para Shahabat mereka itu terawal pada setiap kebaikan,  dan mereka orang amat cepat ke arah semua kebaikan,  dan mereka orang paling semangat di atas seluruh kebaikan. Adapun aqidah asya-‘irah itu aqidah yang muncul sedangkan Sebaik-baik umat ini tidak mengetahuinya. Dan aqidah yang padanya ada keberuntungan ialah aqidah yang berada di atasnya para Shahabat Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sebagaimana ucapan Malik: Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang membaikkan permulaannya.

dan berkata: “Apa yang bukan agama pada zaman Muhamnad shollallohu ‘alaihi wasallam dan para Shahabatnya,  maka sesungguhnya itu tidak akan menjadi agama sampai hari kiamat. Dan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: (Wajib atasmu berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaurrosyidin) sedangkan aqidah mereka (asy’ariyah pent) itu tidak dari Rasul dan tidak juga dari Khulafaurrosyidin. Dan Beliau bersabda: (Akan terpecah umat ini pada 73 kelompok,  semuanya di Neraka kecuali 1, ditanyakan: siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau jawab: Siapa saja yang di atas apa yang Aku dan para Shahabatku berada.”

Asy Syaikh Robi’ hafidzahulloh ditanya:

Soal : Apakah asya-‘irah mereka itu termasuk Ahlussunnah wal Jama’ah kecuali dalam bab nama-nama dan sifat-sifat Alloh?

Jawab : Bukan, mereka memiliki sekian perkara yang banyak,  dan apakah bab nama-nama dan sifat-sifat Alloh itu remeh?! al asya-‘irah pada masa kini mereka itu ada Tijaniyah,  Marghaniyah, Sahrawardiyah, dan Sufiyah, Pegiat kubur mayoritas mereka itu-nas-alullohal afiyah- mereka menyebut diri mereka sendiri Asya-‘irah,  dan mereka menyebut diri mereka sendiri Ahlussunnah! ! [Fatawa fil aqidah wal manhaj]

Berkata Syaikh Sholih Alu Syaikh : Maksud dari bahwasanya asya-‘irah termasuk Ahlussunnah wal Jama’ah atau bukan, maka sebagian Ulama Hanabilah era belakangan atau kebanyakan dari era belakangan termasuk yang  menulis dalam aqidah Salaf dan mereka belum menelitinya secara benar dalam hal ini, mereka anggap Ahlussunnah wal Jama’ah ada 3 golongan:

Ahlul hadits wal atsar,  asya-‘irah,  dan Maturidiyah.

Seperti yang dilakukan safariniy dan juga diperbuat oleh selainnya,  dan ini yang berlaku pada kebanyakan orang,  dan mengadopsinya akhir-akhir ini sebagian dari jama’ah-jama’ah islamiyah dan semakin luasnya perbincangan mengenainya sebagaimana yang telah dikenal.

Namun sebenarnya kata Ahlussunnah iya,  semua masuk dalam kata Ahlussunnah tanpa keraguan, karena mereka semua berhujah dengan Sunnah dan beriman dengan Sunnah sampai akhirnya,  tapi kata Jama’ah semuanya mengklaimnya, dan asya-‘irah mengatakan kami Ahlussunnah waljama’ah, dan Maturidiyah mengatakan kami Ahlussunnah wal Jama’ah,  dan seringnya tiada beda antara keduanya, jadi semuanya berkata Ahlussunnah wal Jama’ah mereka maukan adalah asya-‘irah dan maturidiyah. Dan Ahlulhadits wal atsar mengatakan kamilah Ahlussunnah wal Jama’ah dst…

Akan tetapi bila kamu teliti secara benar,  masing-masingnya mengklaim punya hubungan dengan Jama’ah,  namun apakah sah pengakuan mereka itu atau tidak sah?

Kata (Al Jama’ah)  di sini maknanya yang tidak memecah-belah agama, apa yang sesuai dengan Jama’ah yang pertama yaitu para Shahabat dan para Tabi’in, maka apakah ucapan-ucapan mereka itu memecah-belah dalam agama? Dan apakah hal itu di atas apa yang dahulu para pendahulu berada di atasnya atau tidak?

Kalau demikian ketemulah jawabannya dan ketemulah hasilnya,  jadi apabila suatu perbuatan mereka itu di atas apa yang dahulu para pendahulu berada,  yakni asya-‘irah dan sejenis mereka dan sebagian kelompok-kelompokyang ada di masa kini dan Jama’ah-jama’ah islamiyah dan selainnya,  jika mereka berada di atas yang dahulu para Salaf di atasnya, maka tentunya mereka akan melestarikan Jama’ah yang pertama yang termasuk orang-orang yang tidak membeda-bedakan antara sebuah dalil dan dalil,  khususnya dalam urusan ghoib pada masalah aqidah, mereka tidak membuang sesuatu dalil pun (yang sah) bahkan menetapkannya sebagaimana Alloh tetapkan,  maka sesungguhnya mereka termasuk Jama’ah. Tapi jika sebaliknya,  justru mereka membeda-bedakan,  mengubah-ubahnya, dan mempertentangkan terhadap hal-hal ghoib sebagaimana yang mereka pertentangkan itu,  bahkan mereka menyelisihi pada makna kata Tauhid, pada kewajiban pertama,  dan pada hal iman mereka menyelisihinya,  dan pada hal takdir mereka menyelisihinya,  dan pada hal sifat-sifat Alloh mereka menyelisihinya,  dan pada masalah-masalah yang lain mereka juga menyelisihinya dan pada hal aqidah meteka menyelisihi apa yang dahulu para Salaf berada di atasnya, Jadi bagaimana mungkin kita akan mengatakan bahwasanya mereka itu berpegang teguh dengan al Jama’ah.

Berpegang teguh dengan Ahlussunnah wal Jama’ah itu bukamlah sekedar pengakuan dan bukan sebuah pemberian yang seorang insan memberikannya dengan pilihannya,  kita katakan fulan termasuk Ahlussunnah wal jama’ah atau bukan,  bukan pembawaan,  bukan akal-akalan,  bukan sumbangan yang dibagi-bagikan kepada orang-orang, sifat ini ada pada Kitab dan Sunnah bahwasanya orang yang memecah-belah agamanya bukanlah termasuk al Jama’ah

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.”
[Q.S. Asy Syura: 13]

kita katakan sesungguhnya kita menyifati Alloh dengan mendengar dan melihat takkan pernah kita mena’wilnya, tapi marah dan ridha kita mena’wilnya yakni kita mengatakan itu adalah kehendak. makna bahwasanya Dia tidak marah? kita katakan: iya tidak marah.

Dan oleh karena ini ada orang-orang yang menyebutkan bahwa asya-‘irah termasuk Ahlussunnah waljama’ah,  kita jawab mereka: Ahlussunnah iya,  tapi al Jama’ah kami ingin berharap bahwasanya mereka termasuk dari Ahlussunnah wal Jama’ah secara sebenarnya,  bukan yang pemberian bukan pula tunjukkan,  namun apakah mereka di atas al Jama’ah?

Tidak diragukan lagi bahwa Ahli ilmu yang amanah dalam penyifatan yang Alloh lekatkan terhadap siapa saja yang Dia janjikan dengan keselamatan.

Amanah dalam penyifatan yang tidak boleh ada pada mereka untuk membagi-bagi sifat-sifat sebatas ijtihad mereka, ini begini itu begitu.

Bukankah mereka para pemegang amanah syariat,  maka seharusnya memperlakukan syariat sesuai amanah yang dipikulkan. Mereka membantah apa yang mereka dibantah,  tapi seharusnya apa yang ada padanya.

Iya, datanglah metode apa yang dia katakan dengannya yaitu hendaknya berkata dengan yang lebih baik,  ini merupakan perhatian terhadap kebaikan dan kerusakan.

Namun kata itu pada dasarnya haruslah jelas dan gamblang,  bukan berbasa-basi bukan pula sekedar pemanis.

 

Al Jama’ah merupakan sifat syar’i siapa saja yang merealisasikannya maka dia disifati dengannya,  dan siapa saja yang tidak menerapkannya,  maka sesungguhnya dia tidak disifati dengan itu. [ithafusa-il bima fi thahawiyah min masa-il] dengan perubahan.

 

Penulis : Nurs Al Hasyimi

Mift@h
Cek juga : disini


[ مؤتمر الشيشان يقرر أن الأشاعرة و الماتريدية هم أهل السنة و الجماعة  – المنبر الإسلامي – شبكة سحاب السلفية ]

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=160462

[ مؤتمر الشيشان يقرر أن الأشاعرة و الماتريدية هم أهل السنة و الجماعة !! ]

 

 : الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد 

مؤتمر الشيشان  فقد جمع خليط من أهل الأهواء والبدع ، ومن القبوريين، ومن غلاة التصوف ، فقرر هولاء أن وصف أهل السنة والجماعة يطلق على الاشاعرة والماتريدية !! ، و سياتي الرد على عباراتهم من كلام أهل العلم .

و بالحقيقة هم ارادو بهذا الكلام ، الحرب على الدعوة السلفية،  وفي علماؤها ، والتزهيد من كتبهم ، ككتب ابن تيمية ، وابن القيم، والامام المجدد محمد بن عبد الوهاب ، فهولاء جعلوا ما يحصل الآن  من تفرقات واختلافات ، وقتل وتشريد ، و اضطرابات وقلاقل بسبب هذه الكتب !

وهولاء قبل ظهور داعش المجرمة ، كانوا يصرحون بنفس تصريحهم اليوم في المؤتمر ، إذن: كان هذا متقرر عندهم من عداوة للدعوة السلفية وعلماؤها، والصاق التهم ، واطلاق القاب للتحذير منهم  و انظر ععلى سبيل المثال : [حسن المالكي الضال ]

قال حسن المالكي : مع هذا ومع وصفه أيضاً في قراءته (ص:80 ـ 81) للكتب المؤلفة في العقائد بأنَّها تمزِّق المسلمين، وذِكره أمثلة كثيرة للكتب التي عوَّل عليها الحنابلة في العقيدة وهي كثيرة، منها كتاب التوحيد لابن خزيمة والشريعة للآجري وأصول السنة للالكائي وكتب ابن تيمية وابن القيم، مع ذلك يقول في (ص:154) من قراءته: ((أنا لا أرى معنى لمنع كتب الأشاعرةوالشيعة والإباضية وغيرهم من المسلمين من دخول المملكة في ضوء هذا التفجُّر المعرفي!!!)) .

قال الشيخ ربيع حفظه الله : فقد جمع في ذلك بين التهوين من شأن كتب أهل السنة والإشادة بكتب غيرهم، فاستبدل الذي هو أدنى بالذي هو خير!

وكتاباته مبنيَّةٌ على النَّيل من أهل السنة، بدءاً من الصحابة رضي الله عنهم حتى مَن كان في هذا العصر على طريقتهم في المملكة وغيرها. [ الانتصار للصحابة الاخيار في رد اباطيل حسن المالكي : ص 117 ].

هذا هو الحاصل في مؤتمر الشيشان من التهوين و التزهيد من كتب أهل السنة و الإشادة بكتب المبتدعة ، فالمستمع للمؤتمر من العوام يظن ان هولاء علماء ، وما يقررونه هو الصواب ، سيبدأ عن البحث عن علماء الاشاعرة والماتريدية ، والبحث عن كتبهم وتقريراتهم الفاسدة ، فإن الامر خطير ، فهذا  المؤتمر سيزيد من الاختلافات والتفرق ، والكلام السوء في علماء اهل السنة ، والتحذير من كتبهم ، ولم نسمع من هولاء في المؤتمر التحذير من الإخوان المفلسين  ومن كبتهم ، واتخاذ الجماعات كمرجع لهم في انطلاقهم في تكفير الناس كما فعل سيد قطب بتكفير المجتمعات .

نبذة مختصرة عن عقيدة الاشاعرة  للعلامة الجامي رحمه الله :

الأشاعرة: فرقة من أهل الكلام، الأشاعرة: نسبة إلى أبي الحسن الأشعري – أبو الحسن الأشعري – ينتسب إلى أبي موسى الأشعري – الصحابي -، أبو الحسن الأشعري نشأ نشأته الأولى على طريقة تسمى طريقة المعتزلة، لأن شيخه كان زوج أمه، أخذ أمه وهو طفل صغير تربى عند أبي علي الجبَّائي – زوج أمه -، فتتلمذ عليه وأبو علي الجبَّائي من كبار المعتزلة، والكلام يجر بعضه بعضًا، من سائل أن يقول ماهي المعتزلة نفسها!؟

المعتزلة: فرقة من أهل الكلام ينفون صفات الله – تعالى – لا يثبتون لله أي صفة، في زعمه تنزيه الله تعالى معناه: نفي الصفات، لا قدرة له، ولا إرادة، ولا سمع، ولا بصر، ولا كلام إلى آخره، هذه يقال لها: طريقة المعتزلة لأنهم كانوا في مجلس أبي الحسن، مجلس الحسن البصري، واصل ابن عطاء – رئيسهم – اعتزل خرج من مجلس الحسن فاعتزله، فأتى بأفكار جديدة واعتزل المسلمين في عقيدتهم، لم يسموا معتزلة لكونه اعتزلوا مجلس الحسن فقط، اعتزلوا مجلس الحسن ثم اعتزلوا المسلمين في كثير من عقائدهم، أطلق عليهم: معتزلة، وهي طائفة كبيرة معروفة.

وإذا سألت هل لها وجود الأن!؟ نعم. كل شيعي فهو معتزلي خذوا هذه قاعدة: كل شيعي بدءً من أقرب الشيعة إلى السنة، وهم: الزيدية، ونهايةً إلى أبعدهم الإمامية الجعفرية كلهم على عقيدة الإعتزال في العقيدة. هذه قاعدة، هذه المعتزلة عاش فيها أبو الحسن الأشعري نحو أربعين عامًا حتى أصبح إمامًا بعد عمِّه، ولكن أراد الله، اختلف مع عمِّه في بعض المسائل منها: هل يجب على الله أن يفعل لعباده الأصلح فالأصلح!؟

على عقيدة المعتزلة، أبو الحسن أنكر بفطرته كون العبد يقول: يجب على الله أن يفعل كذا وكذا ففارقه، فجعل يبحث عن الحق، يشبه موقفه موقف سلمان الفارسي الذي فارق المجوسية ليبحث عن الحق وعكف عند الرهبان حتى هداه الله، ولحق برسول الله – عليه الصلاة والسلام – بالمدينة، تمامًا يشبه هذا، أبو الحسن خرج من الإعتزال فيبحث عن الحق وعكف عند … من كلاب فأخذ العقيدة الكلابية، ولكن لكونه كان إمامًا ومشهورًا، ولكونه عالي النسب مشهور النسب نسي صاحب العقيدة الكلابي فنُسي؛ فنسبة إليه العقيدة الأشعرية وهي التفريق بين الصفات، بدلاً أن تنفى جميع الصفات على طريقة المعتزلة، يفرق بين الصفات، ما كان من الصفات العقلية يثبت لله، وما كان من الصفات الخبرية يؤوَّل، هذه طريقة الأشعرية، عاش على هذا فترةً من الزمن وأخيرًا كما لحق سلمان الفارسي برسول الله – عليه الصلاة والسلام – وهداه الله إلى الحق، لحق أبو الحسن بمنهج السلف الصالح، وألَّف كتابًا سماه ” الإبانة “، وذكر في مقدمته – الكتاب مطبوع موجود – أنه على طريقة إمام أهل السنة والجماعة يعني: الإمام أحمد ابن حنبل، وأثنى عليه ثناءً عاطرًا يليق به في مقدمة الكتاب فأعلن أنه رجع إلى منهج السلف الصالح.

والأشعرية الموجودة الأن التي تدرس في كثير من الجامعات خارج هذا البلد؛ إنما هي على العقيدة الكلابية التي كان أبو الحسن عليها بعد رجوعه من الإعتزال، لايزالون يكذبون ما في ” الإبانة ” يقولون: ما هو صحيح رجوع أبي الحسن إلى منهج السلف، وهذا الكتاب ليس له، وإنما من يدعون السلفية هم الذين ألَّفوا على لسانه وكذبوا عليه، ولكن أراد الله، أن كبار أتباع أبي الحسن رجعوا منهم: الإمام الغزالي ندم ندمًا بكى فيه، وألَّف كتابًا سماه: ” إلجام العوام عن علم الكلام “، وإمام الحرمين، ووالد إمام الحرمين، والرازي، والشهرستاني – هؤلاء فطاحلة علماء الأشاعرة – كلهم ندموا، وذموا علم الكلام بما فيه الأشعرية، أما والد إمام الحرمين فرجع رجوعًا صريحًا وألَّف رسالةً بين فيها عقيدته، وكيف كان وكيف رجع، ورسالته موجودة ضمن مجموعة ” المتون المنيرية ” لكم أن ترجعوا إليها لتعرفوا، الأشعرية إذن عقيدةٌ كان عليها أبو الحسن الأشعري قبل رجوعه إلى منهج السلف ثم رجع عنها، وهي المدروسة الأن في كثير من الجامعات التي تسمى الجامعات الإسلامية خارج هذا البلد كـ ” الأزهر “، وفروع ” الأزهر ” كل ما يدرس في كلية الدعوة وأصول الدين في ” الأزهر الشريف ” وأتباع ” الأزهر الشريف ” كلها عقيدة كلابية أشعرية تاب عنها أبو الحسن الأشعري. هذه هي الأشعرية.

يقول شيخ الاسلام أبن تيميه”(( فلفظ أهل السنة يُرَادُ به من أثبت خلافة الخلفاء الثلاثة , فيدخل في ذلك جميع الطوائف إلا الرافضة , وقد يُرَادُ به أهل الحديث والسنة المحضة فلا يدخل فيه إلا من يثبت الصفات لله تعالى ويقول : إن القرآن غير مخلوق , وإن الله يرى في الآخرة , ويثبت القدر وغير ذلك من الأصول المعروفة عند أهل الحديث والسنة  ( منهاج السنة / 2 – 221 ) .

 . اذن : الاشاعرة والماتريدية ليسوا من اهل السنة  والجماعة ، لما عندهم من تحريف ونفي لصفات الله جل وعلا وغيرها من الانحرافات 

قال العلامة ابن باز في رده على الصابوني : فالأشاعرة وأشباههم لا يدخلون في أهل السنة في إثبات الصفات لكونهم قد خالفوهم في ذلك وسلكوا غير منهجهم وذلك يقتضي الإنكار عليهم وبيان خطئهم في التأويل، وأن ذلك خلاف منهج أهل السنة والجماعة كما تقدم بيانه في أول هذه التنبيهات، كما أنه لا مانع أن يقال إن الأشاعرة ليسوا من أهل السنة في باب الأسماء والصفات وإن كانوا منهم في الأبواب الأخرى حتى يعلم الناظر في مذهبهم أنهم قد أخطأوا في تأويل بعض الصفات وخالفوا أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وأتباعهم بإحسان في هذه المسألة تحقيقا للحق وإنكارا للباطل وإنزالا لكل من أهل السنة والأشاعرة في منزلته التي هو عليها. مجموع الفتاوى ( 3/74)

قال ابن عثيمين في شرح الواسطية : فيكون معنى أهل السنة والجماعة، أي: أهل السنة والاجتماع، سموا أهل السنة، لأنهم متمسكون بها، لأنهم مجتمعون عليها…

وعلم من كلام المؤلف رحمه الله أنه لا يدخل فيهم من خالفهم في طريقتهم، فالأشاعرة مثلا والماتريدية لا يعدون من أهل السنة والجماعة في هذا الباب، لأنهم مخالفون لما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه في إجراء صفات الله سبحانه وتعالى على حقيقتها، ولهذا يخطئ من يقول: إن أهل السنة والجماعة ثلاثة: سلفيون، وأشعريون، وماتريديون، فهذا خطأ، نقول: كيف يمكن الجميع أهل سنة وهم مختلفون؟! فماذا بعد الحق إلا الضلال؟! وكيف يكونون أهل سنة وكل واحد يرد على الآخر؟! هذا لا يمكن، إلا إذا أمكن الجمع بين الضدين، فنعم، وإلاّ، فلا شك أن أحدهم وحده هو صاحب السنة، فمن هو؟ ‍ الأشعرية، أم الماتريدية، أم السلفية؟ ‍‍ نقول: من وافق السنة، فهو صاحب السنة ومن خالف السنة، فليس صاحب سنة،فنحن نقول: السلف هم أهل السنة والجماعة، ولا يصدق الوصف على غيرهم أبداً.

 : سئل الشيخ محمد آمان الجامي 

سؤال: كيف يكونون من أقرب فِرق الكلام من أهل السنة مع هذه العقيدة الفاسدة؟

هذا القُرب نسبي بالنسبة إلى غيرهم الذين لا يثبتون لله (صفة واحدة كالمعتزلة؛ لأن الأشاعرة كما تقدم يثبتون صفات المعاني كالقدرة والإرادة والسمع والبصر والعلم والحياة والكلام , وفي الكلام كلام طويل. شرح الواسطية

و قال أيضا : من هنا تعلمون أن الأشاعرة ليسوا من أهل السنة؛ لأنهم مخالفون لأهل السنة والجماعة في هذا الموقف وفي غيره من المواقف الكثيرة. نفس المصدر السابق

 [ : و في شرح سنن ابي داود للعلامة العباد] 

هل الأشاعرة من أهل السنة والجماعة؟

الجواب : ليسوا من

أهل السنة والجماعة؛ ولكنهم أقرب من غيرهم إلى أهل السنة والجماعة، وإلا فأهل السنة والجماعة هم الذين كانوا على ما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه، ومعلوم أن عقيدة الأشاعرة لا يعرفها الصحابة، ولم تكن وجدت في زمن الصحابة، وإنما نبتت بعد الصحابة، فهل يعقل أن يكون هذا خيراً فات الصحابة وادُّخر لمن جاء بعدهم؟! لا يعقل، فالصحابة هم أولى الناس بكل خير، وهم أسرع الناس إلى كل خير، وهم أحرص الناس على كل خير. فعقيدة الأشاعرة عقيدة نابتة، وخير هذه الأمة لا يعرفونها، والعقيدة التي فيها الفلاح: هي التي كان عليها أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كما قال مالك : لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح أولها، وقال: ما لم يكن ديناً في زمن محمد صلى الله عليه وسلم وأصحابه فإنه لا يكون ديناً إلى قيام الساعة. والنبي صلى الله عليه وسلم قال: (عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين) وعقيدتهم لم تأتِ عن الرسول ولا عن الخلفاء الراشدين، وقال: (ستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على ما أنا عليه وأصحابي).” انتهى

 : سئل الشيخ ربيع حفظه الله 

السؤال: يقول السائل: هل الأشاعرة هم من أهل السنّة والجماعة إلاّ في باب الأسماء والصِّفات؟

الجواب : لا ,عندهم أشياء كثيرة ,وهل باب الأسماء والصفات هيِّن؟! الأشاعرة في هذا العصر هم التِّيجانيّة والمرغنية والسهروردية والصّوفية القبوريين أكثرهم – نسأل الله العافية – سمّوا أنفسهم أشاعرة ,وسمّوا أنفسهم أهل السنّة!!. [ فتاوى في العقيدة و المنهج ]

قال الشيخ صالح ال الشيخ : المقصود أنَّ كون الأشاعرة من أهل السنة والجماعة أم لا، فبعض علماء الحنابلة المتأخرين أو أكثر المتأخرين ممن صَنَّفُوا في عقيدة السلف وهم لم يُحَقِّقُوا في هذا الأمر عَدّوا أهل السنة والجماعة ثلاثة فئات:

أهل الحديث والأثر، والأشاعرة، والماتريدية.

مثل ما فعلها السَّفَاريني وفعله أيضاً غيره، وهذه مشت على كثيرين وتبنَّاهَا أخيراً بعض الجماعات الإسلامية وَوَسَّعُوا الكلام فيها كما هو معلوم.

ولكن في الحقيقة كلمة أهل السنة نعم، الجميع من أهل السنة ولاشك؛ لأنَّهُم جميعا يحتجون بالسنة ويؤمنون بها إلى آخره؛ لكن كلمة الجماعة كُلٌّ يدعيها، فالأشاعرة يقولون نحن أهل السنة والجماعة، الماتريدية يقولون نحن أهل السنة والجماعة، وربما لا يُفَرَّقْ بينهما فالجميع يقولون أهل السنة والجماعة يعنون الأشاعرة والمارتريدية، وأهل الحديث والأثر يقولون نحن أهل السنة والجماعة إلخ..

لكن إذا نظرت للحقيقة، كُلٌ يَدَّعِي وَصْلَاً بالجماعة؛ لكن هل يصح ادِّعَاؤُهُ أم لا يصح؟

كلمة (الجماعة) هنا معناه الذي لم يُفَرِّقْ في الدين، ما كانت عليه الجماعة الأولى وهم الصحابة والتابعون، فهل أقوال هؤلاء فَرَّقَتْ في الدين، وهل هي على ما كان عليه الأوائل أم لا؟

إذا أتى الجواب جاءت النتيجة، فإذا كان فعلاً هم على ما كان عليه الأوائل؛ يعني الأشاعرة ونحوهم وبعض الفرق الموجودة الآن والجماعات الإسلامية وغيرها، إذا كانوا على ما كان عليه السلف فحافظوا على الجماعة الأولى ممن لم يُفَرِّقُوا بين دليل ودليل خاصة في الأمور الغيبية في مسائل العقيدة، ولم ينفوا شيئاً بل أثبتوا كما أثبت الله ?، فإنَّ هؤلاء من الجماعة، لكن إذا كانوا يُفَرِّقُونَ ويَتَأَوَّلُون ويَتَعَرَّضُون للغيبيات بما يتعرضون له؛ بل يخالفون في معنى كلمة التوحيد، في أول واجب، وفي الإيمان يخالفون وفي القدر يخالفون، وفي الصفات يخالفون، وفي مسائل أُخَرْ أيضاً في العقيدة يخالفون ما كان عليه السلف كيف نقول أنَّهُم متمسكون بالجماعة.

التمسك بأهل السنة والجماعة ليست دعوة وليست مِنْحَةْ يمنحها الإنسان باختياره، نقول فلان من أهل السنة والجماعة أو لا، ليست مزاجاً وليست عقلاً وليست هِبَات تُوَزَّعْ على الناس، هذا وصف جاء في الكتاب والسنة بأنَّ الذي فَرَّقَ دينه ليس من الجماعة، ?شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ?[الشورى:13]، نقول: إنّناَ نَصِفُ الله ? بالسمع والبصر ما نتأول؛ لكن الغضب والرضا نتأوله يعني نقول هي الإرادة. معنا أنه ما يغضب؟ نقول: نعم ما يغضب..

ولهذا عندك الذين ذَكَرُوا أنَّ الأشاعرة من أهل السنة والجماعة، نقول لهم:أهل السنة نعم؛ لكن الجماعة نحن نود ونرغب ونتمنى أنَّهُم من أهل السنة والجماعة حقيقة، وليست منحة ولا هوى؛ لكنهم هل كانوا على الجماعة؟

لاشك أنَّ أهل العلم أُمَنَاء في الأوصاف التي عَلَّقَهَا الله ? بمن وعده بالنجاة.

أمناء في الأوصاف لا يجوز لهم أن يُوَزِّعُوا الأوصاف بمحض اجتهادهم هذا كذا وهذا كذا.

لا هم أمناء على الشريعة.

فلابد أن يُؤَدُّوا الشريعة على ما أؤتمنوا عليه.

يُطَاعُون ما يطاعون، لكن لابد يكون

ما عنده.

نعم يأتي أسلوب ما يقول به وهو أن يقول بالتي هي أحسن، هذا رعاية مصالح ومفاسد.

لكن الكلمة في نفسها لابد أن تكون حقاً واضحةً، لا مداهنة فيها ولا مجاملة.

الجماعة وصف شرعي من تَحَقَقَ به وُصِفَ به، ومن لم يتحقق به فإنَّهُ لا يوصف به. [ اتحاف السائل بما في الطحاوية من مسائل ] بتصرف

وكتب : نورس الهاشمي

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *