Benarkah Orang Mati Berkomunikasi?

Bisakah ???

Fatwa No. 5965

Soal : Saya telah membaca pada sebagian kitab-kitab Syaikhul Islam mengenai berbincang-bincang dengan orang mati, dia pun menyebutkan bahwasanya hal itu bisa terjadi oleh Syaithon, dengan cara ia keluar dari kubur dan mengajak bicara orang yang mendatanginya. Dan selain itu.” Dan apakah kisah Mutharrif yang telah disebutkan oleh Ibnul Qoyyim termasuk dalam jenis ini? lalu apakah batasan pembeda antara perbincangan orang mati itu terjadi karena syaithon dengan yang bukan?

 

Jawab:

Berkenaan dengan munculnya roh-roh

orang yang sudah mati dari kubur-kubur mereka pada hari jum’at atau malam jumatnya, dan pengenalan mereka kepada para peziarah atau yang melewatinya dan mengucapkan salam kepada mereka, lebih banyak lagi yang mereka kenal dari pada hari-hari selain hari jum’at dan malamnya, dan perjumpaan antara orang yang masih hidup dengan orang-orang yang sudah mati pada hari itu, semua ini termasuk perkara-perkara ghaib yang Allah sembunyikan untuk mengetahuinya, jadi tidak dapat diketahui kecuali dengan wahyu dari Allah kepada Nabinya dari kalangan para NabiNya. Dan tidak terdapat secara pasti dalam masalah itu suatu hadits dari Nabi  sesuai apa yang kami ketahui. Dan tidak cukup untuk mengetahuinya hanya dengan mimpi-mimpi, sebab mimpi-mimpi tersebut bisa salah dan benar. Sehingga lancang berbicara dengan dasar mimpi dan bersandar dengannya merupakan omongan kosong tentang perkara ghaib.

Kedua:

Apa yang telah kamu baca di kitab Zadul Ma’ad karya Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam permasalahan ini terbangun di atas hadits yang telah meriwayatkannya yaitu Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin ‘Ubaid bin Abi Dunya dalam kitab Al Qubur -Bab pengenalannya orang mati terhadap orang-orang yang masih hidup- dari berbagai hadits-hadits yang tidak tsabit/kokoh, atsar-atsar, dan mimpi-mimpi, dan berikut ini akan disebutkan hal itu beserta kritikannya.

  • Berkata Ibnu Abi dunya: menceritakan kepada kami Muhammad bin Aun, menceritakan kepada kami Yahya bin Yaman, menceritakan kepada kami Abdullah bin Sam’an dari Zaid bin Aslam dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata: Berkata Rasulullah : “Tidaklah ada seseorang yang menziarahi kubur saudaranya dan duduk di sisinya melainkan ia pun senang dengannya dan terus dia menjawab (salam) sehingga dia bangkit.”

Dalam jalur sanadnya ada Yahya bin Yaman, berkata Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib: Yahya bin Yaman Al ‘Ijli Al Kufi seorang yang jujur, ahli ibadah, banyak salah, dan dia telah berubah.”

Dan dalam jalur sanadnya juga ada Abdullah bin Ziyad bin Sulaiman bin Sam’an Al Makhzumi Al Madani. Berkata Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib: “Dia ditinggalkan, Abu Dawud dan selainnya telah menuduh dia dengan kedustaan.”

  • Berkata Ibnu Abi dunya: menceritakan kepada kami Muhammad bin Qudamah Al Jauhari, menceritakan kepada kami Ma’n bin Isa Al Qozari, mengkhabarkan kepada kami Hisyam bin Sa’d, menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Jika seseorang melewati kuburan saudaranya, maka dia akan mengenalnya, jika ia mengucapkan salam, maka dia pun akan membalas salam dan mengenalinya. Dan apabila ada orang yang lewat pada suatu kubur, yang dia tidak mengenalinya, mengucapkan salam kepadanya, maka dia akan membalas salamnya.”

Dalam jalur sanadnya ada Muhammad bin Qudamah Al Jauhari Al Anshari Abu Ja’far Al Baghdadi. Berkata Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib: “padanya ada kelemahan.”

Dan dalam jalur sanadnya juga ada Hisyam bin Sa’d Al Madani Abu Ubbad atau Abu Sa’d Al Qurosyi. Yahya bin Ma’in dan An Nasa’i telah melemahkannya.

Dan berkata Harb: “Ahmad tidak meridhainya.” Dan Ibnu Abdil Bar telah menyebutnya dalam Bab orang-orang yang disandarkan kepada yang Dhaif/lemah dari kalangan orang-orang yang menulis haditsnya.

Dan berkata Ibnu Sa’d: “Dia orang yang haditsnya banyak dilemahkan dan dia orang yang terpengaruh paham Syi’ah.” Dan berkata Ibnu Hajar dalam Taqrib: “Jujur, tapi (hafalannya) banyak salah, dan dia dituduh dengan pemahaman syi’ah.”

  • Dan berkata Ibnu Abi Dunya: menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Hasan, menceritakan kepada kami Yahya bin Bisthom Al Ashghori, menceritakan kepada kami Masma’, menceritakan kepadaku seseorang lelaki dari keluarga ‘Ashim Al Jahdari, dia berkata: “Aku melihat ‘Ashim Al Jahdari dalam mimpiku setelah masa kematiannya 2 tahun, maka aku berkata: “Bukankah kamu telah mati?” dia menjawab: “Tentu saja.” Maka kataku: “Sekarang kamu di mana?” katanya: “Saya, demi Allah di taman dari taman-taman surga. Saya dan sekelompok dari teman-temanku berkumpul pada setiap malam jum’at dan hingga dipagi harinya kepada Bakar bin Abdullah Al Muzni, sehingga kami bisa mengetahui berita-berita kalian. Katanya: Aku berkata: “Jasad-jasad kalian atau roh-roh kalian?” Dia berkata: “Sama sekali bukan jasad, sebab telah musnah jasad-jasad, dan yang berjumpa hanyalah roh-roh.” Katanya: Aku berkata: “Apakah kalian mengetahui tentang ziarah kami kepada kalian?” Dia menjawab: “Iya, kami mengetahuinya pada senja hari jum’at, dihari jum’at semua saatnya dan pada malam sabtu sampai terbitnya mentari.” Katanya: Aku berkata: “Bagaimana hal itu tidak terjadi pada hari selainnya?” Dia berkata: “Karena keutamaan hari jum’at dan keagungannya.”

Dalam jalur sanadnya ada seseorang yang samar. Dan dalam jalur sanadnya ada Yahya bin Bishthom. Berkata Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan: “Berkata Abu Hatim: “dia jujur “ , dan berkata Ibnu Hiban: “tidak halal riwayat darinya, sebab dia menyeru kepada paham ingkar takdir, dan karena pada riwayat-riwayatnya munkar-munkar.” Dan menyebutnya Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa: “Berkata Abu Dawud: mereka meninggalkan haditsnya.” Berkata kepadanya Mu’tamir bin Sulaiman: “Kamu itu Qodari? Dia menjawab: “Iya.”

Ini andaipun shahih jalur sanadnya, tetap tidak sah sebagai sandaran, sebab itu sebuah mimpi dari yang selain orang ma’shum, sehingga tidak bisa ditegakkan sebagai hujjah.

  • Dan berkata Ibnu Abi Dunya: menceritakan kepada kami Khalid bin Khudas, menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman dari Abu Tayyah, dia berkata: Mutharrif biasa keluar rumah pada pagi, dan pada hari jum’at dia berjalan semalam suntuk: Dia berkata: dan saya mendengar Abu Tayyah mengatakan: sampai kepada kami berita bahwasanya cambuknya bercahaya, lalu tibalah malam hari hingga ketika sampai pada pekuburan suatu kaum sedangkan dia berada di atas kudanya, maka dia pun melihat para penghuni kubur, masing-masing penghuni kubur dalam keadaan duduk di atas kuburnya. Maka mereka semua berkata: Ini Mutharrif bepergian pada hari jum’at . Aku berkata: “Apakah kalian mengerti adanya hari jum’at di sisi kalian?” Mereka menjawab: “Iya, dan kami mengetahui apa yang diucapkan oleh burung-burung.” Aku berkata: “Apa yang mereka katakan?” Katanya mereka: “Salam, Salam.” [1 Arruh karya Ibnul Qoyyim Hal.6 dan Zadul ma’ad 1/113 cetakan halaby.]

Khalid bin Khidas dia adalah Abul Haitsam Al Mihbali mantan budak orang Bashrah/Al Bashri, berkata Ibnu Hajar tentangnya dalam Taqrib: “Jujur, juga salah.” lalu riwayat ini adalah mimpi, maka tidak bisa berhujah dengannya sebab bertentangan dengan kaidah asal para peneliti dan dengan sunatullah yang ada di alam ini yang telah kokoh bahwasanya orang-orang yang telah mati tidak dapat bercakap-cakap dengan orang-orang yang masih hidup, dan bahwasanya orang-orang yang masih hidup tidak dapat mendengarkan ucapan orang-orang mati kecuali mukjizat Nabi dari kalangan para Nabi alaihimusolatu wasalam. Begitu pula mereka tidak akan keluar dari kubur-kubur mereka kecuali di hari kiamat. Sebagaimana firman subahanahu: Kemudian setelah itu, kalian benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kalian akan dibangkitkan di hari kiamat. [QS Al Mukminun: 15-16]

Adapun tentang membalas salam, maka telah terdapat pada hadits yang lemah/dha’if. Asy Syaikh Ibnu Abdil Hadi telah menyebutkannya dalam Ash Shorimul Manki. Dan kalau seandainya kita diwajibkan untuk mempercayai mimpi-mimpi, maka tidak menunjukkan akan sahnya apa yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim tentang perkara-perkara yang telah kita nukilkan tadi darinya, Karena hal itu disampaikan oleh selain orang yang ma’shum dari orang yang tidak diketahui.

Wabillahi taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wasallam.

Al Lajnah Ad Daimah Lilbuhutsil ilmiyah wal ifta

  • Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
  • Wakil ketua : Abdurrazaq Afifi
  • Anggota : Abdullah bin Qu’ud

Alih Bahasa: Miftahudin bin Ahmad Nur Asbani
– Rabu, 29 Muharrom 1437 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *