Kaum Asy’ariyah Mayoritas? Waspada!

 

Soal :
Apakah benar mayoritas muslim di masa kini adalah kaum Asya’irah (asy’ariyah pent)?

Jawab :
Kelompok Asya’irah mereka itu adalah orang-orang yang disandarkan penamaannya kepada Abul Hasan Al Asy’ari, dia adalah Ali bin Isma’il wafat pada tahun 330 H rahimahullah.Dan sungguh beliau telah melewati 3 fase dalam hal kehidupan beraqidah:

dahulu beliau pernah berada di atas madzhab mu’tazilah[1], lalu berada pada fase di antara mu’tazilah dan As Sunnah dengan menetapkan sebagian kecil dalam permasalahan Sifat dan menta’wil sebagian besarnya, kemudian berakhir urusan dia ini menuju pada keyakinan aqidah sebagaimana para Salaf umat ini berada diatasnya, tatkala beliau menjelaskan secara gamblang tentang permasalahan itu dalam kitabnya Al Ibanah yang kitab itu merupakan kitab terakhir dari kitab-kitabnya atau yang paling akhir. Dan beliau menerangkan bahwasanya beliau berada di atas keyakinan aqidah sebagaimana Imam Ahlus Sunnah berada diatasnya yaitu Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan selainnya dari kalangan Ahlus Sunnah. Berupa keyakinan menetapkan segala apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri, dan menetapkan untuk-Nya apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapkan dari berbagai nama-nama dan sifat-sifat. Berada di atas nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan Allah, dengan tanpa takyif [2] ataupun tamtsil [3], dan dengan tanpa tahrif atau ta’wil [4] sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla:

“Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS Asy syura: 11]

Apakah benar Asya'irah mayoritas-salafy Cireong-MahadibnulQoyyim

Sedangkan Asya’irah (kelompok Asy’ariyah pent) mereka itu terus menerus tetap berada di atas madzhabnya yaitu pada fase sebelum beliau berpindah menuju madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan sungguh telah terkenal pada sebagian orang ucapan-ucapan bahwasanya Asya’irah di masa kini telah mencapai 95% dari kaum muslimin, padahal ucapan ini tidaklah benar dari beberapa sisi:

Pertama:

Bahwasanya penetapan semisal penyandaran seperti ini hanyalah dapat terjadi jika dengan berdasarkan perhitungan yang rinci untuk bisa sampai pada kisaran itu, padahal itupun tanpa hasil, sehingga itu hanyalah sekedar pengakuan belaka.

Kedua:

Kalaulah sukses bahwasanya mereka itu sesuai dengan penyandaran kisaran ini, maka sesungguhnya mayoritas itu bukan menunjukkan selamat dan benarnya suatu keyakinan aqidah. Bahkan keselamatan dan benarnya suatu aqidah itu hanyalah dapat diraih dengan mengikuti apa yang dahulu para Salaf umat ini berada diatasnya, dari kalangan para Shahabat dan siapa saja yang meniti jejak di atas prinsip jalan beragama mereka, dan bukan dengan mengikuti suatu keyakinan yang pencetusnya saja wafat di kurun ke empat dan dia sendiripun telah rujuk/tobat dari keyakinannya itu,

dan bukankah tidak masuk akal jika kebenaran itu tertutupi dari para Shahabat, Tabi’in dan para pengikut tabi’in, lalu terwujudlah kebenaran itu dengan cara mengikuti keyakinan yang muncul dan lahir setelah zaman mereka ini?

Ketiga:

Bahwa madzhab Asya’irah yang meyakininya itu hanyalah orang-orang yang belajar di lembaga pendidikan atau orang yang mempelajarinya dari guru-guru yang berada di atas madzhab Asya’irah ini. Adapun orang-orang awam –mereka ini terbanyak- tidak mengerti sedikitpun tentang madzhab Asya’irah ini, dan mereka itu hanya berada di atas fitrah, yang menunjukkan akan hal itu adalah aqidahnya seorang budak wanita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, dan telah berlalu penyebutannya (dalam buku ini pent)

Keyakinan aqidah yang selaras dengan fitrah adalah aqidah keyakinannya Ahlus Sunnah wal Jama’ah…

________________________

Sumber  : Qothful Jana Ad Dani hal.35-36
Karya : Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr hafidzahullah

Alih Bahasa : Miftahudin bin Ahmad Nur Asbani
– Ahad, 28 Rajab 1436 H


Catatan dari Penterjemah :

  1. Mu’tazilah : penamaan secara umum terhadap kelompok yang muncul sekitar kurun kedua tahun hijriyah, antara tahun 105-110 H dengan pencetusnya salah seorang yang bernama Washil bin ‘Atha al ghazal. [Lihat Firaq Mu’ashirah Juz 1 hal 880]
  2. Takyif : Upaya penggambaran bentuk sifat-sifat Allah ta’ala.
  3. Tamtsil : Memisalkan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya.
  4. Tahrif, atau Ta’wil : Memalingkan konteks dzahir ayat serta hadits yang shahih kepada makna lain yang batil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *