Menepis rasa tak berguna yang hinggap pada diri seorang Tholibul ilmi

Menepis rasa tAk Berguna yang hinggap pada diri seorang Tholibul Ilmi

Seorang penanya berkata:

“Saya menuntut ilmu sudah sekian tahun dan bersamaan dengan itu tiada ada yang melekat kuat padaku dari ilmu-ilmu yang telah dipelajari dan tiada pula saya merasakan adanya guna/faedah, maka dengan apakah gerangan anda akan menasehati saya ini? semoga Alloh membalas anda dengan kebaikan.

Maka jawabanya adalah:

Jangan kamu mengatakan: “Saya tidak pernah merasakan ada guna/faedah, karena sesungguhnya seorang Tholibul ilmi (penuntut ilmu agama pent.) berada dalam sebuah ibadah.

Dan maksud dari menuntut ilmu ialah menggapai keridhaan Alloh –jalla wa ‘alaa- kepada seorang hamba. Dan kalian telah mengetahui kondisi seorang pria bertandang sebagai orang yang bertaubat, dan sungguh (Telah menghampirinya Malaikat Maut, dan terjadilah pertengkaran terkait perihalnya antara Malaikat Rahmat dengan Malaikat Adzab. Berkatalah Malaikat Rahmat: “Dia datang sebagai seorang yang bertaubat menghadap dengan hatinya kepada Alloh ta’ala.” dan Berkata Malaikat Adzab: “Sesungguhnya dia belum beramal kebaikan sama sekali.”

Kemudian datanglah salah satu Malaikat kepada mereka dalam rupa manusia, lalu bertindak di antara mereka yaitu: Sebagai Hakim. Maka dia pun berkata: “Ukurlah jarak di antara dua negeri, lalu kemanakah yang paling dekat jaraknya, maka putuskanlah sebagai bagian dari dia itu!” Maka merekapun mengukur, merekapun mendapati lebih dekat kepada negeri yang dia tuju, Sehingga Malaikat Rahmat pun membawanya.” (1)

Diberilah ampunan terhadap seorang pria ini, yang bertaubat. Karena sungguh pergerakannya dia itu tentu diperhitungkan untuk kebaikan dia. Sehingga pergerakan seorang Tholibul ilmi dalam mencari ilmu merupakan ibadah. Sebagaimana pergerakannya seorang yang bertaubat, berpindah menuju ke negeri yang baik.

Dan mencari ilmu agama itu lebih baik bagimu daripada shalat-shalat sunnah atau dari sebagian perkara ibadah-ibadah sunnah. Dan sudah seharusnya bersumber dari niat yang jujur..

kemudian tentang faedah yang tercerai-berai, dan bukanlah maksudnya itu adalah agar bisa saja kamu nanti menjadi seorang Alim, dan bukanlah agar bisa saja kamu nanti menjadi seorang Tholibul ilmi tumpuan.

Akan tetapi yang dimaksud dari upayamu mencari ilmu itu ialah untuk mengangkat kebodohan dari dirimu sendiri, dan agar kamu dapat beribadah kepada Alloh ­–jalla wa’alaa- dengan cara ibadah yang benar. Dan supaya aqidah/keyakinamu itu baik, dan kamu nanti menghadap Alloh ­–jalla wa’alaa- dalam kondisi kamu selamat dari kerancuan syubhat, selamat dari cinta popularitas.

Alloh ­–jalla wa’alaa- telah berfirman:

{ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ }{ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ }

“Pada hari tiada guna harta dan tidak pula anak-anak lelaki, kecuali orang yang menghadap kepada Alloh dengan hati yang selamat.” [QS Asy Syu’ara 26:88-89]

Dan telah berfirman –jalla jalaaluh-:

{ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا }

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan balasan orang yang paling baik amalnya.” [QS Al Kahfi 18:30]

Dan kalaulah tidak memberi manfaat kecuali untuk dirimu sendiri dan keluargamu, tentunya dalam hal ini sudah merupakan kebaikan yang besar.

  • Lihat Hadits secara sempurna di Shahihul Bukhari 6:373, dan Shahih Muslim no.7008 dari hadits Shahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu

 

Dari Kitab Al Washayal Jaliyyah Lilistifadah minadurusil ilmiyyah hal 31-32

[Prog. Maktabah Syamilah]

 

Penulis: Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh

Alih Bahasa: Miftahudin bin Ahmad Nur Asbani

Sabtu, 17 Rabi’ul Akhir  1436 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *