Manakah yang lebih berat Siksanya: Pelaku Maksiat atau Pelaku Bid’ah?

Mana yang lebih berat siksanya antara pelaku bid'ah dengan pelaku maksiat

Soal: Manakah yang lebih berat siksanya: Pelaku Maksiat atau Pelaku bid’ah?

Jawab:

Pelaku bid’ah yang lebih berat. Sebab kebid’ahan lebih parah daripada kemaksiatan. Dan bid’ah itu lebih dicintai oleh syaithon daripada maksiat. Karena sesungguhnya bagi pelaku maksiat, dia itu akan bertaubat (14). Adapun seorang pelaku bid’ah, maka amat sedikit yang mau bertaubat. Sebab dia menyangka bahwasanya dia sedang berada di atas kebenaran. Berbeda dengan pelaku maksiat, dia menyadari bahwasanya dia pelaku maksiat dan bahwasanya dia sedang berbuat maksiat. Adapun pelaku bid’ah dia sesungguhnya memandang bahwasanya dia seorang yang taat dan merasa berada di atas ketaatan. Oleh karenanya jadilah kebid’ahan itu –dan kita berlindung kepada Alloh-  lebih jelek daripada maksiat. Dan oleh sebab itu pula As Salaf memperingatkan dari majelis-majelis para pelaku bid’ah(15). Karena hal tersebut dapat berpengaruh terhadap siapa saja yang duduk bermajelis dengan mereka. Dan bahaya mereka sangat dahsyat.

Tidak ada keraguan lagi bahwa bid’ah lebih jahat daripada kemaksiatan(16). Dan bahaya Pelaku bid’ah lebih parah dampak buruknya kepada orang-orang, jika dibandingkan dengan bahayanya seorang pelaku maksiat. Oleh karena ini berkata As Salaf: “Sederhana dalam As Sunnah lebih baik dari pada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.” (17)

 

Catatan kaki:

(14.)Berkata Sufyan Ats Tsauri rahimahullah:

البدعة أحب إلى إبليس من المعصية, فإن المعصية يتاب منها, والبدعة لايتاب منها

“Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat, sebab sesungguhnya maksiat itu ditaubati daripadanya, sedangkan bid’ah tidak ditaubati daripadanya.”[Musnad ibnul Ju’d 1885, Majmu’ul Fatawa 11/472]

Berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ اللهَ احتَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ (الصحيحة 1620)

 “Sesungguhnya Alloh menghalangi taubat dari pelaku setiap kebid’ahan.” Ash Shahihah: 1620

(15.)Berkata Al Hasan Al Bashri rahimahullah:

لاتجالس صحب بدعة, فإنه يمرض قلبك

 “Jangan kamu bermajelis dengan Shahibul bid’ah,  karena hal itu dapat membuat sakit hatimu.” Al I’tisham 1/172, Al Bid’u wannahyu ‘anha hal.54.

Berkata Asy Syathibi rahimahullah 1/158: “Maka sesungguhnya Kelompok yang selamat –dan mereka itu adalah Ahlus Sunnah- mereka diperintah untuk memusuhi Ahli bid’ah, dan menghindar dari mereka, dan mencegah terhadap siapa saja yang menuju kearah mereka dengan perang atau yang lebih ringan daripada itu. Dan sungguh para Ulama telah memberi peringatan dari bershahabat dengan mereka dan bermajelis bersama mereka.”

Saya katakan(penyusun): Semoga Alloh merahmati As Salaf, mereka tidaklah meninggalkan Shahibul  bid’ah melainkan mereka menghinakan dan memperingatkan daripadanya.

(16.) Berkata Asy Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh tentang bahayanya Ahli Bid’ah : “Dan kalaulah tidak ada orang yang Allah membangkitkannya untuk menolak bahaya mereka yaitu: Ahli Bid’ah-Pasti rusaklah agama ini. Dan memang kondisi kerusakannya itu lebih besar dari pada kerusakan yang timbul tatkala terkuasai oleh musuh dari pasukan perang. Karena mereka ini jika menguasai tidak akan merusak hati-hati ini dan apa yang ada didalamnya dari perkara agama melainkan secara perlahan saja. Adapun mereka itu para Pelaku bid’ah, maka mereka merusak hati-hati ini sejak awal. [Majmu’ul Fatawa 28/232]

(17.)Dari ucapan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Lihat Al Lalikai 114, Al Ibanah 161, As Sunnah Karya Ibnu Nashr 30, Ash Shahihah 5/14

 

Al Ajwibatul Mufidah An As-ilatil manahijil Jadidah hal.26-28

Penyusun: Abu Furaihan  Jamal bin Furaihan Al Haritsi

Dari jawaban: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafidzahulloh

 

Alih Bahasa: Miftahudin bin Ahmad Nur Asbani

Ahad, 11 Rabi’uts Tsani  1436 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *