Kemurnian Agama Bersama Salaf

Air Murni

Kemurnian Agama Bersama Salaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman An-Nawawi)

Dekatnya sebuah generasi dari sumber kebenaran memberikan corak dan dampak yang sangat baik. Dan sebaliknya, semakin jauh dari sumber kebenaran akan memberikan dampak yang sangat negatif. Namun, seburuk-buruknya suatu generasi, Allah I tetap akan membangkitkan orang-orang yang akan membela kebenaran dan ini merupakan sunnatullah. Allah I berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka suatu generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: ‘Kami akan diberi ampun.’. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan tentang Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?” (Al-A’raf: 169)Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan dalam tafsirnya: “Maka datanglah setelah mereka generasi yang (jahat) yang kejahatannya melebihi sebelumnya dan mereka mewariskan Taurat. Kepada merekalah kembalinya kitab Taurat tersebut sehingga mereka berbuat dengan hawa nafsu mereka dan harta benda dikorbankan untuk mereka, berhukum dengan tidak benar, dan merajalelanya suap-menyuap.”

Dalam ayat-Nya yang lain, Allah I berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsir ayat ini mengatakan: “Tatkala Allah I menyebutkan para nabi yang ikhlas dan mengikuti keridhaan Rabb mereka, dan yang selalu kembali kepada-Nya, lalu Allah I menyebutkan generasi yang datang setelah mereka yang telah menukar apa-apa yang telah diperintahkan kepada mereka. Mereka kembali ke belakang, meninggalkan shalat yang telah diperintahkan kepada mereka untuk menjaganya, namun mereka meremehkannya. Meremehkan perintah shalat, yang merupakan tiang agama dan merupakan timbangan iman dan keikhlasan di hadapan Allah I, yang merupakan amalan yang sangat ditekankan dan yang paling utama. Dan tatkala mereka demikian, Allah I menjadikan amalan shalat termasuk dari ajaran agama. Mereka menyia-nyiakannya bahkan menolaknya. Yang mendorong mereka melakukan hal ini karena mereka mengikuti hawa nafsu dan keinginan-keinginan mereka. Sehingga, semua yang mereka inginkan adalah kembali kepada hawa nafsu tersebut dan mendahulukannya daripada hak-hak Allah I. Mereka mengutamakan keinginan hawa nafsu, bagaimanapun sulitnya mereka berusaha untuk mencapainya dan apapun dikorbankan ketika mereka berusaha untuk itu.”
Rasulullah r menceritakan di dalam sabdanya: “Tiadalah seorang nabi yang diutus kepada suatu umat melainkan ada para pembela dari umat mereka dan shahabat yang memegang sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian setelah itu, datanglah generasi yang jahat di mana mereka mengucapkan apa yang tidak mereka perbuat dan mereka berbuat apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, dia adalah seorang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia adalah seorang yang beriman. Serta barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia adalah seseorang yang beriman. Dan di belakang ini tidak ada iman yang dia miliki sebesar dzarrahpun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Semakin dekat generasi dengan sumber kemurnian agama, semakin dekat pula jaminan kemurniannya. Karena mereka langsung menimba kebenaran itu dari Rasulullah r. Ucapan mereka adalah ucapan Rasulullah r, perbuatan mereka adalah perbuatan Rasulullah r, jalan mereka adalah jalan Rasululah r. Ibadah mereka adalah ibadah Rasulullah r, akidah mereka adalah akidah Rasulullah r, dan akhlak mereka adalah akhlak Rasulullah r.
Ringkasnya, jika kita menginginkan kemurnian syariat itu, maka kembalilah kepada mereka yang mendapatkan kemurnian syariat itu sendiri, yaitu para shahabat Rasulullah r. Kepada mereka-lah kita merujuk. Kemurnian Islam itu ada pada apa yang mereka pahami, yang mereka amalkan, dan yang mereka dakwahkan tentang Islam. Maka dari itu, ikutilah jalan mereka! Jalan, akidah, ibadah, dan akhlak mereka diridhai oleh Allah I dari atas ‘Arsy-Nya.
Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan:
1.    Al-Qur`an
2.    Riyadhush Shalihin, Al-Imam An-Nawawi
3.    Taisirul Karimir Rahman, Asy-Syaikh As-Sa’di
4.    Syarah Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
5.    Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Asy-Syaikh Al- Albani
6.    Makanatu Ahlil Hadits, Asy-Syaikh Dr. Rabi’

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *