Anda Muslim? Jangan ikut meriahkan syi’ar orang-orang kafir!

 

Tahun Baru Masehi Syi'ar Kufar yang dimeriahkan oleh Mayoritas MuslimMengadakan perayaan-perayaan

Soal pertama dari fatwa no.1002

Soal 1: Apa pandangan hukum Islam, mengenai perayaan-perayaan yang dikerjakan oleh kaum muslimin dalam rangka pernikahan, pindah ke negeri yang baru, dan peringatan-peringatan ulang tahun perseorangan dan selainnya dari berbagai macam kesempatan yang istimewa. Yang mana dibacakan pada kesempatan tersebut Al Qur’anul karim, dan didendangkan nasyid-nasyid pujian terhadap Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam, Kemudian mereka menutup acara tersebut dengan berdiri sebagai bentuk pengagungan dan memuliakan Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam?

Jawab 1:

Pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari pada bentuk nikah sir (sembunyi-sembunyi/rahasia) dan Beliau memerintahkan untuk mengumumkan pernikahan. Adapun perayaan karena adanya pernikahan dan perpindahan kenegeri suaminya dengan mengadakan resepsi pesta termasuk bagian dari mengumumkan pernikahan. Sehingga yang demikian itu disyari’atkan, kecuali apabila padanya terdapat nyanyian-nyanyian yang munkar atau campur baurnya para wanita dengan lelaki atau apa saja yang serupa dengan itu dari berbagai perkara yang haram.

Kedua: Hari raya dalam Islam hanya ada tiga; Hari raya Fitri, hari raya Adha, dan hari Jum’at. Adapun perayaan hari kelahiran perseorangan dan selainnya yang tercakup dalam rangkaian berbagai macam acara istimewa, seperti; hari pertama dari tahun hijriyah (Tahun Baru Hijriyah), dan Masehi (Tahun Baru Masehi), hari nishfu sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) atau malam nishfu sya’ban, dan hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hari pelantikan raja atau pemimpin suatu negeri –ini sebagai contoh saja. Maka perayaan yang seperti ini dan semisalnya belum pernah dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dilakukan di masa Khulafaur rasyidin, dan tidak pula pada tiga abad yang dipersaksikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kebaikan. Sehingga semua itu termasuk bagian dari bid’ah yang diada-adakan. Yang semua itu di edarkan kepada kaum muslimin oleh kalangan di luar mereka, dan kaum muslimin pun terfitnah karenanya (ikut-ikutan pent). Sehingga kaum muslimin merayakannya seperti perayaan mereka terhadap hari-hari raya Islam, bahkan lebih parah. Dan terkadang diada-adakan di dalam acara perayaan-perayaan ini berupa sikap pengkultusan terhadap seorang tokoh, dan praktek boros dalam harta, dan bercampur-baurnya antara para wanita dan lelaki, dan juga sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkara yang merupakan kebiasaan mereka dalam acara perayaan-perayaan mereka yang disebut sebagai hari-hari besar.

Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Waspadalah kalian dari perkara yang diada-adakan (dalam agama), sebab setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap kebid’ahan adalah sesat.”

Dan Beliau telah bersada: “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama pent) kami ini yang bukan bagian daripadanya, maka hal tersebut tertolak.”

Dan ini akan sangat jelas hukum keharamannya dalam perkara yang apabila kondisi perayaannya itu sebagai bentuk pengagungan terhadap orang yang termulia, atau untuk mencari berkah, atau meraih pahala dengan melakukan ritual berdiri, seperti perayaan Maulid (Ulang tahun) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Maulid Husain, Maulid Badawi dan selain mereka.

Dan juga perayaan sebagai sikap pengagungan terhadap hari-hari atau malam-malam, serta berharap pahala dengan mengadakan perayaan padanya dan mencari berkah dengan hal itu, seperti perayaan malam Nishfu Sya’ban atau siang harinya, dan perayaan Malam Isra’ Mi’raj dan sejenis itu. Sebab sebenarnya –perayaan-perayaan tersebut dan semisalnya, yang mereka lakukan itu sebagai bentuk pendekatan, peribadatan dan menginginkan pahala.

Adapun untuk perayaan yang tidak ada maksud menginginkan berkah dan tidak pula berharap pahala, seperti perayaan kelahiran seorang anak (ulang tahun), dan perayaan awal tahun hijriyah atau masehi dan hari pelantikan para pemimpin -maka yang seperti itu dan kalaupun hanya termasuk dari bid’ah tradisi, namun selain itu padanya juga mengandung sikap menyerupai orang kafir dalam hari-hari perayaan mereka. Dan sebagai upaya pencegahan dari mengadakan perayaan-perayaan lainnya yang merupakan bagian dari perayaan yang haram, yang terlihat padanya sebagai perwujudan sikap pengagungan dan pendekatan diri kepada selain Allah, sehingga perayaan yang demikian itupun terlarang. Sebagai bentuk usaha menutup pintu-pintu kejelekan dan upaya menjauh dari sikap meniru-niru orang kafir dalam hari-hari besar dan perayaan-perayaan mereka. Dan sungguh telah bersabda shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka.” (1).

______________________

(1).HR. Ahmad 2/50,92. Abu Dawud 4/314 no.4031, Ibnu Abi Syaibah 5/313,322. Abd bin Humaid 2/51 no.846. Abu Nu’aim fi Akhbari Ashbahan (tarikh Ashbahan) 1/129

Ketiga: Membaca Al Qur’an merupakan sebaik-baik upaya pendekatan diri kepada Allah dan amal-amal Shalih. akan tetapi menjadikannya sebagai penutup dalam acara-acara perayaan bid’ah adalah tidak boleh. Sebab padanya terdapat sikap penghinaan atas Al Qur’an dengan meletakkannya tidak pada tempatnya. Adapun mendendangkan nasyid-nasyid dalam upaya memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka itu bagus. Kecuali apabila terkandung padanya makna extrem/berlebihan didalamnya, maka tidak boleh. Berdasarkan sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana berlebih-lebihannya kaum Nashrani terhadap Putra Maryam, dan hanyalah saya ini seorang hamba. Maka kalian ucapkan: “Hamba Allah dan utusan-Nya.” (1) dan juga sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Hati-hati kalian dari bersikap melampaui batas dalam agama, sebab hanyalah yang menyebabkan binasa orang-orang sebelum kalian itu lantaran sikap melampaui batas.” (2) Begitu juga, tidak boleh mengkhususkan hari tertentu sebagai hari raya.

Keempat:

Menutup acara perayaan-perayaan dengan melakukan ritual berdiri sebagai bentuk sikap memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sikap menghormatinya merupakan tindakan yang buruk, yang Allah dan Rasul-Nya tidak meridhainya. Dan tidak pula Syari’at ini menetapkannya, bahkan hal itu termasuk dari bid’ah yang terlarang.

Wabillahitaufiq,washallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa Alihi wa shahbihi wasallam.

Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhutsil ilmiyah wal ifta.

Ketua: Ibrahim bin Muhammad Alu Asy Syaikh

Wakil ketua: Abdurrazaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayan

Anggota: Abdullah bin Mani’

________________________________

(1).HR. Ahmad 1/23,24,47,55. Ad darimi 2/320, Abdurrazaq 11/237 no.20524. Ibnu Hibban 2/147,154, 14/133 no.413,414,6239. Ath Thayalisi hal/6. Al Baghawi fi syarhissunnah 13/246 no.3681

(2). HR. Ahmad 1/215,347. An Nasai 5/268 no. 3057. Ibnu Majah 2/1008 no.2029. Ath Thabarani 12/156 no 12747, 18/289 no.742. Ibnu Hibban 9/183-184 no.3871. Hakim 1/466. Ibnu Huzaimah 4/274 no.2867. Ibnu Abi ‘Ashim 1/46 no.98. dan Al Baihaqi 5/127

 

Alih bahasa: Miftahudin bin Ahmad Nur Asbani

Sabtu, 1 Muharrom 1436 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *